MASYARAKAT Kerajaan Majapahit dari abad 13 hingga 16 Masehi sudah memiliki tradisi menabung. Tak hanya menyisihkan uang di celengan, mereka juga menyimpan bahan pangan di bangunan semacam lumbung untuk mengatur kebutuhan.
Gaya hidup hemat dan cermat demikian diyakini sebagai salah satu faktor yang mengantarkan Majapahit mencapai era kejayaan.
Artefak celengan banyak ditemukan di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kawasan yang diyakini sebagai ibu kota Majapahit.
Tempat menabung uang yang ditemukan memiliki beragam bentuk. Di antaranya, babi hutan, harimau, kuda, sapi, buah manggis, dan buah blewah.
Selain itu, celengan dari zaman kerajaan yang didirikan Raden Wijaya tersebut juga diketahui berbentuk kepala manusia dan gajah.
Penelitian para arkeolog menunjukkan celengan yang ditemukan di Trowulan dengan tinggi sekitar 10 hingga 40 sentimeter (cm).
Celengan dari bahan terakota alias tanah liat yang dibakar ini berdiamater kisaran 15 hingga 30 cm dengan ketebalan 1 hingga 2 cm.
”Penemuan celengan menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit sudah mengenal tradisi menabung,” ungkap Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta, Anam Anis kemarin.
Setiap celengan, umumnya memiliki lubang di bagian atas untuk memasukkan uang.
Di zaman Majapahit hanya dikenal uang koin logam. Ada tiga jenis uang yang berlaku saat itu.
Yakni, uang koin gobog asli dari Majapahit, uang koin ma dari India, dan uang koin kepeng dari China. Semua jenis uang kepeng berlaku, baik dari era dinasti kapan pun.
”Perdagangan antarwilayah, khususnya di Asia membuat banyak pertukaran komoditas, termasuk mata uang dari luar Majapahit,” jelasnya.
Perbedaan ketiga mata uang ini dapat diamati dari penampakan fisiknya. Uang gobog yang umumnya berbahan tembaga memiliki motif tokoh wayang, hewan, hingga tumbuhan dengan lubang lingkaran di tengahnya.
Sedangkan uang kepeng bertulis huruf Mandarin dengan lubang kotak. Sementara itu, uang ma cenderung berwarna cerah karena dibuat dari perak dan emas.
Anam Anis mengatakan, pada masa kejayaan Majapahit di era Raja Hayam Wuruk masyarakat cukup makmur. Sehingga memungkinkan mereka menyisihkan hartanya.
Pesatnya perkembangan perekonomian tak membuat masyarakat bergaya hedon, melainkan cenderung hemat.
Sebagai pembanding, kebiasaan menabung uang juga ditemukan dalam tradisi masyarakat Bali kuno. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya mata uang kepeng di sejumlah situs kuno di Pulau Dewata itu.
Bukan hanya uang, masyarakat Majapahit juga diyakini menerapkan tradisi menabung dalam bentuk lain, yakni bahan pangan. Tapi, bukan di celengan, melainkan di lumbung, bangunan khusus tempat penyimpanan.
Melimpahnya hasil pertanian saat itu memungkinkan masyarakat menyisihkan gabah padi serta komoditas hasil panen lain.
Langkah ini membantu mengatur kebutuhan dan mengantisipasi kekurangan bahan pangan saat gagal panen.
Para peneliti memang belum menemukan model peninggalan bangunan khusus penyimpanan bahan pangan itu.
Namun demikian, mengacu Kitab Negarakertagama dan model permukiman di Bali kuno, sangat mungkin masyarakat Majapahit memiliki lumbung.
”Apalagi produksi beras saat itu melimpah, tentunya ada manajemen untuk penyimpanan,” imbuh Direktur Organisasi Bantuan Hukum LPPA Bina Annisa Mojokerto tersebut.
Keyakinan ini, lanjut Anam Anis, didukung pula dengan ditemukannya artefak alat pengolah hasil panen. Seperti lumpang, lesung, pipisan, dan gandik.
Dalam skala yang lebih kecil, masyarakat juga memiliki terakota berupa gentong tempat menyimpan bahan makanan di rumah. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi