KEMAJUAN pertanian era Majapahit tak lepas dari kemampuan masyarakat menyesuaikan masa tanam dengan musim. Penghitungan mangsa (musim) itu membantu memaksimalkan hasil pertanian di samping penggunaan bahan serba alami sebagai pupuk dan obat tanaman.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jawa Timur Edi Triharyantoro mengatakan, majunya pertanian di zaman saat itu dipengaruhi banyak faktor. Dari penggunaan teknologi hingga peran penguasa melalui kebijakan pro-petani. ”Hasil dan upaya pertanian adalah satu proses yang tidak terpisah, karena itu catatan dalam sumber sejarah sama semua, antara teknologi yang digunakan dengan hasil pertanian yang melimpah,” bebernya.
Teknologi tersebut antara lain, mengacu pada pembangun puluhan bendungan sebagai pemasok kebutuhan air. ”Itu yang membuat pertanian Majapahit menjadi surplus,” imbuhnya. Teknologi ini senyampang dengan kemampuan masyarakat dalam mengolah tanah hingga menghitung mangsa.
Edi menyatakan, penghitungan masa berkaitan erat dengan sistem tanam. Contohnya, kesesuaian antara mangsa tertentu dengan jenis tanaman yang cocok. ”Pengatahuan itu penting, sehingga potensi gagal panen dapat diantisipasi,” ujarnya. Pengetahuan terkait dengan kepercayaan ini juga terejawantah melalui hari-hari pasaran Jawa yang dicocokkan dengan jenis tanaman.
Di masa pertanian Majapahit, Edi menjelaskan, berbagai jenis hama juga sudah muncul. Misalnya, linting, walang sangit, menthek, lothoh, burung, dan jenis binatang perusak lainnya. ”Untuk membasmi hama, petani juga sudah punya cara masing-masing. Guna mengatasi hama menthek digunakan daun baubar dan daun tulak yang diambil dari kuburan,” bebernya. Dalam mengatasi hama lain seperti walang sangit, pemberantasan dilakukan dengan membuat perangkap.
Sebagai penyubur tanaman, masyarakat juga menggunakan beberapa bahan alami. Yang paling utama adalah pupuk kandang dan dedaunan yang membusuk sebagai penambah nutrisi. Sisa tanaman yang dibakar menjadi abu juga disebar ke lahan tanam sebagai pupuk. ”Masyarakat Majapahit secara substansial merasa sebagai bagian dari alam semesta, karena itu semuanya serba alami. Kalau yang dilakukan tidak sesuai, maka akan menimbulkan chaos (kekacauan),” tandas pria 69 tahun ini. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi