PERTANIAN di zaman Kerajaan Majapahit masih serba sederhana, namun membawa kemakmuran bagi rakyat. Di antara faktor kuncinya adalah kombinasi penerapan teknologi sederhana, kepiawaian mengolah tanah, dan jaringan irigasi yang tersistem.
Puncak pertanian Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Bersama Mahapatih Gajah Mada, Hayam Wuruk membawa kerajaan yang diyakini berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, itu adidaya di bidang agraris. Hal ini ditandai dengan melimpahnya produksi beras dan hasil panen lainnya.
Kitab Negarakertagama mengisahkan, pertanian dengan komoditas utama padi adalah tulang punggung masyarakat Majapahit. Karena itu, hanya sawah yang dapat menjamin persediaan pangan secara teratur. ”Pertanian adalah penyangga utama kehidupan perekonomian pada masa Majapahit,” ulas anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jawa Timur Edi Triharyantoro.
Menurut Edi, kemajuan pertanian Majapahit dapat dilacak dari faktor alam dan teknis. Wilayah kerajaan yang dikelilingi gugusan gunung dan sungai menjadikan tanahnya subur. Keuntungan geografis itu selaras dengan kecakapan masyarakat dalam mengolah tanah. Guna memaksimalkan hasil panen, petani menggunakan teknologi sederhana, seperti alat pertanian tradisional yang dikenal sekarang. Di antaranya, bajak atau luku, cangkul dan garu, untuk menggarap tanah.
Sementara itu, proses panen padi dilakukan menggunakan ani-ani dan mengolahnya dengan tampah, lesung, lumping, dan alu. Beragam peralatan ini terbuat dari bahan kombinasi besi dan kayu. Luku dan garu dioperasikan menggunakan tenaga hewan sapi atau kerbau.
Sejak masa 700 tahun silam itu pertanian basan dan kering pun telah dikenal. Yakni, pertanian basah yang dilakukan di sawah dan pertanian kering di ladang gaga, kebun dan tanah tegalan. Dalam setahun, petani mampu panen dua kali. ”Hasil panen melimpah hingga mampu swasembada,” ujar Edi.
Edi mengatakan, sejarah pertanian Majapahit dapat dilacak melalui berbagai sumber sejarah. Salah satunya prasasti Trailokyapuri (1486 Masehi) yang memuat keterangan tentang teknologi pertanian dan jenis-jenis padi yang ditanam. ”Termasuk pejabat-pejabat pertanian, seperti huler yang mengurusi air. Ada juga usaha-usaha penguasa untuk mengurusi pertanian,” beber warga Jalan Raya Ijen, Kota Mojokerto, tersebut.
Soal irigasi pertanian, Majapahit juga menerapkan sistem yang mumpuni dengan jaringan waduk. Di wilayah ibu kota saja, teridentifikasi 20 waduk yang saling terintegrasi. Enam waduk di antaranya terdapat di area inti kerajaan. ”Beragam bentuk bendungan air ini menjadi jaringan sumber pengairan pertanian yang dialirkan ke sawah-sawah melalui sistem irigasi,” imbuh pria yang pernah menjabat kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPK) Samarinda itu. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi