Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kerajinan Tanah Majapahit Dari Gerabah hingga Batu Bata

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 27 April 2024 | 14:50 WIB
KUNO: Koleksi terakota perabotan rumah berbahan tanah liat dari zaman Majapahit milik Museum Gubuk Wayang.
KUNO: Koleksi terakota perabotan rumah berbahan tanah liat dari zaman Majapahit milik Museum Gubuk Wayang.

SELAIN dikenal maju di bidang maritim dan pertanian, Kerajaan Majapahit juga luar biasa dalam teknologi pengolahan tanah menjadi terakota.

 Hampir seluruh keperluan keseharian yang sifatnya profan maupun sakral terpenuhi melalui keterampilan tersebut. Seperti barang sesederhana gerabah dan perabotan rumah tangga, hingga batu bata khas yang kelak teruji mampu bertahan selama ratusan tahun. Keterampilan mumpuni serta faktor bahan yang alami ditengarai menjadi kunci kriya tersebut berkembang pesat.

 Masa kejayaan Kerajaan Majapahit menjadi tonggak penting peradaban di Nusantara. Di masa Pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389) membawa kemajuan di berbagai bidang. Masyarakat yang sejahtera, pengaruh politik dan perdagangan yang luas, serta berkembangnya seni budaya dan karya sastra. Demikian ini di antara indikator masa keemasan kerajaan, sebagaiamana diuraikan dalam Kitab Negarakertagama

Salah satu aspek yang mengalami perkembangan pesat adalah kerajinan berbahan tanah. Teknik pembuatan barang-barang keseharian dari tanah liat yang dibakar menjadi beragam bentuk benda bermunculan. Seperti gentong, jambangan, guci, bejana, dan kendi. Kriya-kriya itu berguna sebagai penampung air, penyimpan makanan, hingga membantu proses pengawetan. 

”Dengan bahan sederhana berupa tanah, masyarakat Majapahit bisa membuat barang yang amat kuat,” kata Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta, Anam Anis, kemarin. Menurutnya, pengolahan tanah liat menjadi perabotan sudah menjadi budaya bangsa. Bahkan, sejak sebelum era kerajaan yang diyakini berpusat di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu. 

Kebudayaan ini berkembang pesat seiring dengan pengaruh Majapahit yang makin kuat. Khususnya, di bidang perekonomian. Aktivitas perdagangan antarwilayah membuat terakota tersebut semakin dikenal dan memiliki nilai tinggi. Selain untuk memenuhi kebutuhan keseharian, terakota juga diciptakan untuk memenuhi kebutuhan seni dan artistik masyarakat. Demikian pula dengan proses yang berhubungan dengan kepercayaan.

 Di sisi lain, milestone kerajinan Majapahit juga muncul dalam bentuk batu bata. Kriya hasil pengolahan tanah liat melalui teknik pembakaran sempurna ini telah diakui sebagai produk yang bertahan selama ratusan tahun. Hal itu juga terbukti dari masih melimpahnya candi dan cagar budaya berbahan batu bata tersebut. ”Batu bata Majapahit kuat karena saat itu kondisi tanah liatnya masih sangat bagus, belum tercemar apa-apa. Selain proses pembuatannya juga alami,” terang Anam Anis. 

Dalam rupa bangunan, arsitek zaman Majapahit juga menerapkan teknik yang unik. Yakni, dengan cara penggosokan. Batu bata yang telah melewati proses pembuatan dipasang dengan cara saling digosokkan menggunakan sedikit air. Metode ini membuat bata saling menempel kuat tanpa perekat, seperti semen yang ada sekarang. ”Dengan digosok saja sudah sangat rekat, kuatnya tidak kalah dengan (besi) betoneser,” tandas pria 66 tahun tersebut. Dalam beberapa bangunan rumah bangsawan, terakota genting saat itu juga telah dikenal. (adi/ris)

Editor : Hendra Junaedi
#kerajaan majapahit #terakota #gerabah