Ratusan wisawatan rombongan kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya itu menjadikan wisata sejarah salah satu tujuan liburan.
Mereka yang menyaksikan turut terpukau atas peradaban dan peninggalan benda cagar budaya kerajaan Majapahit yang ada.
Selama di Pusat Informasi Majapahit (PIM), para turis mancanegara mengamati setiap koleksi yang ada. Dari mengabadikan menggunakan kamera, hingga mengajukan pertanyaan terkait peninggalan sejarah tersebut.
’’Museum ini luar biasa. Ada begitu banyak hal yang bisa dilihat dari segi peradaban kuno, kisah keagamaan, dan koleksinya ditampilkan dengan indah. Di sini, saya belajar lebih banyak tentang agama Hindu, konstruksi candi, dan arkeologi,’’ ungkap Daisy, 45, wisatawan asal Amerika Serikat, di tengah kunjungannya, Jumat (15/3).
Mereka juga kagum atas tarian tradisional Majapahitan yang menyambutnya saat tiba di PIM.
Hingga akhirnya tak luput untuk mengabadikan momentum tersebut. ’’Tariannya sangat indah, para wanitanya sangat ramah,’’ tegasnya.
Senada diungkapkan Millia, turis asal Firlandia. Ia mengaku sangat kagum atas peradaban dan benda cagar budaya kerajaan Majapahit di Kabupaten Mojokerto yang masih terawat dengan baik.
’’Menurut saya tempat ini sangat indah, saya harap jika kalian datang ke Indonesia harus berkunjung ke sini (Pusat Informasi Majapahit),’’ ungkapnya sambil acungkan jempol.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto Norman Handhito menegaskan, Mojokerto yang dijuluki sebagai bumi Majapahit memang sudah tak asing lagi bagi wisatawan.
Bahkan kekayaan sejarah yang ada benar-benar menyita perhatian ratusan turis mancanegara tiap tahunnya.
Benar saja, di awal tahun ini saja terjadwal ada tiga kali kunjungan rombongan wisawatan kapal pesiar yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
’’Itu sudah menjadi bukti jika peradaban Majapahit di Kabupaten Mojokerto, sampai saat ini masih terus menyita perhatian dunia,’’ ungkapnya.
Tak heran setiap kali kapal pesiar berlabuh, destinasi wisata sejarah ini selalu menjadi salah satu pilihan liburan.
Terbukti dengan hadirnya mereka pada Senin (11/3) dan Jumat (15/3), serta dilanjut pada Minggu (24/3). Mereka yang datang ke bumi Majapahit dengan rombongan empat bus atau 150 wisatawan tiap kali datang.
Mereka berkeliling untuk menikmati peninggalan bersejarah ini. Mulai Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, hingga Museum Trowulan. Termasuk, wisata Buddha Tidur, di Desa Bejijong. Wisatawan dapat menikmati sisa-sisa kejayaan masa lalu melalui benda-benda peninggalan.
Terdiri dari bidang irigasi, pertanian, arsitektur, perdagangan, perindustrian, agama, dan kesenian. Seluruh koleksi ditata di dalam gedung, halaman, dan pendopo museum.
’’Peninggalan sejarah itu sendiri yang menjadi daya tarik. Objek sejarah peninggalan kerajaan terdahulu yang masih terjaga dan terawat. Heritage yang tersisa di Mojokerto itu tentu memiliki nilai tinggi,’’ jelas Norman.
Akses yang mudah dan cepat menjadikan Mojokerto belakangan selalu dipilih travel untuk mengantarkan rombongan wisatawan asing menikati liburannya.
’’Poinnya memang mereka ingin mengetahui terkait peradaban Nusantara, dalam hal ini Majapahit yang mungkin mereka kenal dari sejarah saja,’’ tuturnya.
Hadirnya ratusan wisatawan mancanegara ini, Norman berharap, mereka dapat menyebarkan informasi tentang sejarah peradaban Majapahit ke seluruh dunia.
’’Kami juga berharap dapat menginspirasi turis asing lainnya untuk bisa datang ke Mojokerto untuk berlibur di situs-situs bersejarah. Termasuk wisata alam yang kita miliki,’’ paparnya.
Sebab, jika melihat karakteristik daerah, Kabupaten Mojokerto ini mempunyai potensi besar di sektor wisata. Segala macam destinasi sudah lengkap dengan kawasan pariwisata segitiga emas yang menjadi andalan di Bumi Majapahit. Yakni, Pacet dan Trawas dengan pesona alamnya.
Sedangkan, Trowulan yang kaya benda cagar budaya nasional sebagai wisata sejarah. Tak heran jika kemudian, Kabupaten Mojokerto ini berjuluk Mojokerto Full of Majapahit Greatness yang berarti, Penuh dengan Kemegahan Majapahit.
Artinya, Majapahit tak sekadar menjadi slogan, melainkan diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur yang memiliki asas manfaat bagi sektor ekraf di tengah masyarakat. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah