Penggunaan pasak dari bambu atau kayu yang mudah dibongkar pasang membuat bangunan lebih fleksibel dan tahan getaran. Lebih dari sekadar membangun tempat berlindung, pengetahuan memitigasi bencana nyatanya telah diterapkan.
Bangunan kayu dengan konstruksi demikian kini masih mudah ditemui di Nusantara. Seperti rangkaian rumah-rumah kuno di Jawa yang disusun dengan kayu saling bersambung.
Aneka teknik sambungan yang dikenal, intinya bertujuan membuat bagian-bagian tulang bangunan menyatu dan saling mengunci. Guna memperkuat kuncian tersebut, arsitek biasanya memasang pengikat berupa pasak berbahan bambu atau kayu seukuran pensil.
Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta, Anam Anis, mengatakan, ilmu konstruksi sederhana ini telah diterapkan oleh pendudukan Majapahit. Kehidupan pada abad ke-13 sampai 16 itu belum mengenal paku logam.
Agar rangka bangunan terikat, masyarakat menyobek kedua ujungnya sehingga saling mengait. ’’Ini termasuk budaya bangsa kita karena sampai sekarang masih banyak diterapkan di desa-desa,’’ tutur pria kelahiran 1958 itu.
Menurut Anis, selain mengunakan pasak, sambungan juga diikat mengunakan tali berbahan ikatan bambu. ’’Itu sudah sangat kuat,’’ imbuh pengacara kawakan tersebut.
Di zaman Kerajaan Majapahit, rumah penduduk umumnya terbuat dari bambu dan kayu. Sedangkan atapnya berbahan ijuk alias serat aren, jerami, sirap berupa papan kayu tipis, dan genting. ’’Rumah bangsawan pakai atap genting,’’ imbuh bos Organisasi Bantuan Hukum LPPA Bina Annisa Mojokerto itu.
Informasi tentang bangunan rumah dari zaman kerajaan yang diyakini berpusat di Trowulan, Mojokerto, itu tertuang dalam sejumlah catatan arkeologis.
Seperti Kitab Negarakertagama, Kitab Sutasoma, relief Candi Gambar Wetan, Candi Kedaton, Candi Jabung, Candi Minak Jinggo, dan Candi Penataran. Hunian kuno itu didirikan di atas tanah dan tumpukan bata. Tiang-tiang rumah disangga dengan umpak.
Anis mengungkapkan, arsitektur bangunan rumah tanpa kuncian permanen tidak hanya membuatnya kokoh dan tetap fleksibel, mudah dibongkar dan dipasang.
Tapi, teknik ini juga diterapkan sebagai upaya mengantisipasi bencana gempa. Konstruksi yang tak kaku seperti tembok itu membuatnya lebih tahan terhadap getaran. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah