Emas telah dianggap sebagai barang berharga sejak puluhan ribu tahun sebelum Masehi. Karena ketahanannya yang luar biasa, logam mulia ini menjadi standar mata uang hingga simbol kemewahan.
Kelak, bahan emas banyak diproduksi sebagai aksesori perhiasan selama berabad-abad, termasuk pada masa eksistensi Majapahit 700 tahun silam.
Pada era kerajaan yang diyakini berpusat di wilayah Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini, emas menjadi ”kegemaran” kalangan kerajaan dan para bangsawan.
Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca (1365) menyebut emas menjadi simbol atas kejayaan. Dalam beberapa pupuh, emas menghiasi kedua sisi kereta kuda yang ditunggangi raja dalam iring-iringan ke timur.
”Di museum banyak ditemukan benda-benda berbahan emas yang berkaitan dengan Majapahit,” ujar Budayawan Mojokerto Putut Nugroho.
Dalam karyanya, Mpu Prapanca juga menyebutkan dalam sebuah jamuan besar kerajaan, semua peralatan pesta berbahan emas, termasuk kotak sirih pinang.
Emas, di zaman itu, juga dipakai sebagai penanda keistimewaan pada hulu keris dan perisai yang dihadiahkan kepada ksatria terpilih.
Lekatnya simbol kemakmuran dengan emas tak lepas dari hubungan Majapahit dan China.
Pesatnya aktivitas perdagangan membuat keberadaan emas makin mudah ditemui. ”Pada akhirnya kalangan bangsawan pun menggunakan perhiasan emas,” tuturnya.
Dalam sejumlah literatur, peleburan emas tak berbeda jauh dengan proses metalurgi logam di zaman itu.
Pembakaran dengan suhu tinggi dilakukan untuk menghasilkan bentuk-bentuk dengan detail yang sangat rapi. Proses pembakaran ini memanfaatkan terakota berbahan tanah liat semacam cawan bernama kowi. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah