Layaknya plastik di zaman kiwari, keberadaan gerabah-gerabah itu tak lepas dari keseharian masyarakat.
Temuan artefak terakota dari zaman Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-13 sampai 15 masehi telah banyak dikaji. Benda-benda dari tanah liat lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Salah satunya yang berhubungan dengan petirtaan berwujud wadah baik dalam bentuk gentong, jambangan, guci, bejana, ataupun kendi. Yang unik, beragam perabotan itu rupanya memiliki fungsi dan bentuk berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya.
Jambangan air misalnya. Bejana besar itu dibuat dari tanah liat pilihan. Seiring kegunaannya menyimpan air dengan volume banyak, jambangan dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah pecah.
Ketebalannya mencapai 1 sentimeter dan diproses dengan pembakaran sempurna. ’’Dengan bahan sederhana berupa tanah, masyarakat Majapahit bisa membuat barang yang amat kuat,’’ kata Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta, Anam Anis, kemarin.
Contoh terakota jambangan air dapat disaksikan di Balai Kota Mojokerto. Artefak koleksi Museum Gubuk Wayang itu memiliki tinggi sekitar 1 meter. Mengingat fungsinya, gerabah ini kemungkinan dibuat oleh perajin atau seniman yang sangat ahli.
’’Jambangan air biasanya dimiliki seseorang yang ’’berada’’ dan digunakan untuk menempatkan air untuk berbagai keperluan sehari-hari,’’ begitu keterangan yang termuat di artefak tersebut.
Gentong, bentuk lain dari jambangan air dari zaman Majapahit memiliki fungsi lebih spesifik. Wadah dengan mulut yang lebih kecil dan badan gemuk itu umumnya ditempatkan di dapur. Ia menyimpan air untuk kebutuhan memasak.
Keberadaan gentong saat ini juga masih banyak digunakan oleh masyarakat perdesaan, di Jawa Tengah dikenal dengan sebutan genuk.
Dalam varian lainnya, gentong juga memiliki fungsi untuk menyimpan makanan. Tak seperti kulkas atau lemari di zaman sekarang, 700 tahun yang lalu masyarakat melindungi persediaan makanannya dari mangsaan hewan dengan cara menyimpannya di gentong yang digantung.
Terakota wadah dengan leher dan mulut lebih kecil itu biasanya ditutup dengan kain.
Menurut Anam Anis, berbagai terakota berhahan tanah liat itu menunjukkan kemampuan masyarakat Majapahit dalam mengolah bahan dari alam untuk memenuhi kebutuhan harian.
’’Termasuk menciptakan terakota kendi yang berguna penyimpan air minum, ini kan masih banyak sekarang,’’ tandas pakar hukum sekaligus bos LPPA Bina Annisa tersebut. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah