Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ibu Kota Majapahit, Tembok Istana Bersabuk Parit

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 20 Januari 2024 | 15:20 WIB

Peta ibukota Majapahit.
Peta ibukota Majapahit.
SABUK parit melingkari kawasan Ibu Kota Majapahit berfungsi membantu prajurit menjaga pertahanan kerajaan. Sementara itu, kompleks istana raja dikelilingi dengan tembok tebal nan tinggi sebagai perlindungan.

Wilwatikta, sebutan ibu kota Kerajaan Majapahit, digambarkan memiliki jaringan kanal yang bersilangan saling tegak lurus.

Foto udara yang diambil pada 1970-an di wilayah Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, daerah yang diyakini sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit, menggambarkan jalur air itu berorientasi utara-selatan dan barat-timur.

Jauh sebelumnya, arsitek Belanda, Maclaine Pont pada 1924 juga membuat ilustrasi Kota Majapahit berdasarkan hasil ekskavasinya di Trowulan.

Kawasan pusat kerajaan pada masa abad ke 16 itu digambarkan memiliki jaringan kanal kuno yang saling tersambung.

Tak hanya di area inti kerajaan, sistem perairan ini juga mengelilingi wilayah ibu kota. Selain menjadi sumber irigasi pertanian, jaringan parit yang dalam ini disebut banyak ahli tak lepas dari fungsi pertahanan.

”Sebagai pusat kerajaan yang wilayahnya sampai Asia, ibu kota Majapahit tentu ditata sistematis dan mumpuni. Apalagi di zaman itu, Majapahit bersanding dengan China dan India, jadi harus kuat,” terang Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis, kemarin.

DATA SEJARAH: Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis menunjukkan peta Ibu Kota Majapahit di kantornya, kemarin.
DATA SEJARAH: Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta Anam Anis menunjukkan peta Ibu Kota Majapahit di kantornya, kemarin.

Prasasti Sidateka atau yang populer dengan nama Prasasti Tuhanyaru menceritakan kemegahan keraton sebagai pusat baru Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Jayanegara.

Data arkeologis bertitimangsa 1323 masehi itu  dibangun kokoh dengan gagasan ’’sabuk parit”. Yakni sebuah kawasan yang dibengeni dengan parit dalam sehingga aman dari serbuan musuh sampai seratus tahun lebih.

Klaim itu diperkuat dalam Serat Pararaton. Dalam kitab yang ditulis pada 1613 masehi  menyebutkan, semenjak Jayanegara memindahkan ibu kota dari daerah Tarik ke Trowulan setelah pemberontakan Rakuti, tidak ada kabar adanya serbuan musuh.

Baik dari luar negeri maupun negara bawahan. Selain membentengi istana dengan tembok batu bata, raja juga membangun parit sebagai pertahanan.

Anam Anis mengungkapkan, sistem pertahanan dengan tembok dan parit lebih dulu termuat dalam Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca (1365 masehi).

JEJAK ARKEOLOGIS: Arkeolog Ismail Lutfi menunjukkan angka tahun yang tertera di dinding yoni Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, di sela proses ekskavasi,
JEJAK ARKEOLOGIS: Arkeolog Ismail Lutfi menunjukkan angka tahun yang tertera di dinding yoni Situs Bhre Kahuripan, Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, di sela proses ekskavasi,

Dalam pupuh VIII disebutkan tembok batu merah tebal dan tinggi mengitari pura, alias pintu barat Kerajaan. Gerbang itu menghadap lapangan luas dan bersabuk parit.

”Sudah banyak laporan-laporan temuan itu. Seperti tembok kuno setinggi dua meter di Nglinguk (Unggahan, Trowulan). Ada lapisan pasir di bawahnya yang terkait dengan letusan Gunung Kelud,” beber Direktur LPPA Bina Annisa itu dalam perbincangan di kantornya, Jalan Jawa, Kota Mojokerto.

Temuan ini sekali lagi membuktikan istana raja sudah sangat teratur. Kompleks  kediaman istana berpagar tembok batu bata nan tinggi, sedangkan di luar tembok terdapat parit dalam yang mengelilingi.

Bukti lain juga diungkap melalui berita Cina yang ditulis Ma Huang sewaktu mengikuti perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Jawa.

Dalam penggambaran keadaan masyarakat Majapahit pada abad ke 15, istana raja dikelilingi tembok dengan tinggi lebih dari tiga zhang atau sekitar 9,9 meter. (adi/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #mojosains #mojokerto #trowulan