Banyak yang meyakini, air yang keluar dari bekas eksplorasi yodium itu berkhasiat bagi kesehatan.
Pemerhati sejarah Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, awal kemunculan sumber air panas di Sekar Putih terjadi sekitar tahun 1928.
Mata air tersebut terpancar melalui lubang sumur bor di sebuah lahan yang kini masuk wilayah Kelurahan Kedundung.
”Awalnya pengeboran untuk mengeksplorasi yodium, tetapi yang keluar justru air panas yang mengandung belerang,” tandasnya.
Tak hanya satu titik, pengeboran kembali dilakukan di lahan sekitarnya di Kelurahan Gunung Gedangan.
Namun, mata bor juga menembus sumur artesis sehingga memancarkan air panas dari perut bumi.
”Karena sumber air yang keluar cukup deras sehingga menimbulkan genangan,” ungkapnya.
Karena tak ada kandungan yodium, maka lokasi pengeboran tersebut ditinggalkan oleh perusahaan farmasi di masa kolonial.
Kubangan air tersebut justru dimanfaatkan warga sebagai padusan atau kolam untuk berendam.
’’Yang menjadi daya tarik utama tentu karena airnya yang hangat,” papar anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Sejak saat itu, kolam yang kemudian dikenal dengan padusan air panas ini mulai ramai pengunjung. Tidak hanya masyarakat kota, tetapi pengunjung juga datang hingga dari luar daerah.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, tingkat kunjungan semakin meningkat ketika air panas diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan.
Kabar tersebut menyebar dari pengunjung yang merasakan penyakitnya sembuh setelah berendam air belerang.
”Akhirnya orang-orang dari luar kota terus berdatangan untuk berendam,” ulasnya.
Semakin membeludaknya pengunjung, kelurahan setempat kemudian memasang penyekat dari anyaman bambu di area padusan air panas.
Selain itu, kolam juga ditambah khusus untuk pengunjung perempuan.
Untuk kebutuhan perawatan, maka tiap pengunjung juga mulai diberlakukan tarif masuk.
Meski demikian, pembebanan biaya tersebut tak menyurutkan animo wisatawan. Bahkan, pada 1928 rata-rata bisa menembus 750-1.000 orang pengunjung per hari.
Yuhan menambahkan, tingginya tingkat kunjungan itu juga membuat masyarakat sekitar turut kecipratan berkah.
Karena warga memanfaatkannya dengan menjual makanan dan minuman di sekitar padusan air panas.
”Jadi, pemandian juga berkontribusi dalam peningkatan ekonomi masyarakat,” tutur dia.
Tak hanya untuk berendam, tak jarang pengunjung juga membawa air langsung dari pancuran padusan.
Sehingga, dulu juga banyak ditemui warga yang yang menjual jeriken maupun botol kosong untuk wadah air. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah