Tingginya potensi cuaca buruk jadi pertimbangan diundurnya ekskavasi yang akan digelar Maret nanti.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur Endah Budi Heryani menuturkan, ekskavasi Situs Selokelir yang semula dijadwalkan bakal digelar Maret mendatang berpeluang diundur.
Sebab, BPK mempertimbangkan faktor cuaca di musim penghujan ini. ’’Untuk ekskavasi Candi Selokelir (Maret), kita lihat nanti dulu ya,’’ ujarnya.
Tingginya intensitas hujan maupun potensi cuaca ekstrem jadi pertimbangan BPK.
Terlebih, lokasi ekskavasi berada di ketinggian sekitar 760 mdpl dengan kontur tanah relatif curam. Sehingga, risiko terjadinya hal yang tak diinginkan meningkat.
’’Melihat titik lokasi situs di kawasan pegunungan, tentu kami juga harus mempertimbangkan faktor alam juga. Kita mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan,’’ ungkap Endah.
Sehingga, gelaran ekskavasi tahap lima Situs Selokelir ini masih menunggu kondisi cuaca yang relatif mendukung.
Kendati demikian, BPK masih belum bisa memastikan kapan ekskavasi digelar jika terkendala cuaca buruk.
’’Mungkin nanti ya setelah lewat (masa) puncak musim hujan,’’ terangnya.
Disinggung soal pihak mana saja yang akan dilibatkan dalam upaya pelestarian cagar budaya ini, Endah belum bisa bicara banyak.
’’Untuk ini kita masih belum bisa sampaikan sekarang,’’ tandas Endah.
Sedianya, BPK bakal melakukan ekskavasi pada salah satu candi peninggalan era klasik di kawasan Pawitra ini pada Maret mendatang.
Candi bercorak Hindu-Buddha ini menjadi salah satu tinggalan arkeologis penting yang ada lereng Penanggungan.
Empat kali ekskavasi sebelumnya, tim arkeolog mendapati sejumlah temuan penting dan menarik.
Mulai dari sejumlah batu andesit relief wayang hingga struktur altar. Candi selokelir ditemukan Broekveldt, kontroler kebun kopi Belanda, pada 1904 silam pasca kebakaran besar melanda Gunung Penanggungan.
Dari situ terkuak banyak peninggalan cagar budaya era Klasik yang tersembunyi di balik rimbunnya area hutan. Di antaranya, jalur kereta kuda dari susunan batu yang mengelilingi Pawitra. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah