Sebagaimana kompleks pusat pemerintahan sekarang, Wilwatikta memiliki alun-alun berupa tanah lapang dengan sebutan Lapangan Watangan.
Area jantung kota yang berada dalam gugusan keraton Rajasanagara alias Hayam Wuruk itu berfungsi sebagai tempat upacara sakral hingga pertandingan kuda dengan tombak tumpul.
Keberadaan Lapangan Watangan dituangkan Empu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama pupuh 8.
Alun-alun Kota Majapahit tersebut berada di sisi utara tidak jauh dari keraton tempat tinggal Raja Hayam Wuruk yang berkuasa pada 1300-an masehi.
”Lapangan Watangan diyakini berada di area timur Bajang Ratu dan tidak jauh dari Candi Tikus,” ujar budayawan Mojokerto Putut Nugroho.
Putut menyebut, alun-alun sebagai jantung Ibu Kota yang diasumsikan berada di Trowulan tidak akan jauh dari pusat pemerintahan.
Secara garis besar, terdapat dua Kawasan yang diyakini sebagai letak pusat pemerintahan, yakni Keraton Kulon di kawasan Desa Kedaton, Trowulan, dan Keraton Wetan yang sekarang dikenal dengan Situs Kumitir.
”Nah, Situs Kumitir itu tidak jauh dari Lapangan Watangan,” tandasnya.
Sebagai paradigma kiwari, alun-alun era Majapahit juga menjadi pusat segala kegiatan masyarakat.
Empu Prapanca dalam karya termasyhurnya itu menyebut jika Watangan menjadi tempat penobatan, keagamaan, hingga pertandingan watangan, yakni pertarungan dengan berkuda.
Dua orang berkuda saling dorong dengan tombak tumpul sehingga ada yang terjatuh. Lomba di lapangan Watangan biasanya dihadiri oleh raja, keluarga, dan penggawa istana.
Kesakralan Watangan juga digambarkan melalui tata letaknya yang dikelilingi tempat suci.
Di sisi utaranya terdapat tempat penghadapan yakni tempat para cendekia dan Menteri berkumpul.
Sementara itu, di sebelah timur terdapat tempat bagi para pendeta Budha dan Siwa berdiskusi, membicarakan kitab suci, dan urusan keagamaan.
Tradisi keberadaan tanah lapangan di utara keraton diteruskan dengan hadirnya alun-alun pada istana Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Selain Lapangan Watangan, Ibu Kota Majapahit juga dilengkapi dengan alun-alun bernama Ibuh Ageng. Letaknya terdapat di sisi barat keraton.
Dalam Kitab Negarakertagama 8:1, di tengah Ibuh Ageng terdapat air yang bergelombang mengalir dalam.
Keberadaan area air yang diasumsikan sebagai waduk kecil itu disebut-sebut merupakan Kolam Segaran saat ini.
Putut mengungkapkan, terdapat falsafah terkait kepercayaan Hindu-Budha yang mendasari tata letak alun-alun di sisi utara keraton.
Dalam konsep triloka (tiga tingkatan dunia), alun-alun menjadi representasi dunia Bhuwarloka, yakni dunia orang yang telah meninggalkan hasrat keduniawiannya, kecuali satu hasrat, yaitu untuk dapat bertemu dengan dewa.
Alun-alun memang dibangun sebagai tempat berkumpulnya masyarakat dan pertemuan antara rakyat dan raja sebagai perwujudan dewa.
Olehnya, sisi utara alun-alun biasanya terdapat pasar yang menjadi cerminan dunia Bhurloka sebagai perwujudan hasrat perduniawian.
Sengaja atau tidak, filosofi peletakan alun-alun dan pasar ini misalnya ada di Kota Mojokerto. ”Setiap tata perkotaan memang sejatinya mengandung makna-makna tertentu, tidak asal-asalan saja,” tandas Putut. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah