Air dari penampungan itu dialirkan ke sawah-sawah sekitar Trowulan oleh juru perairan berjuluk jogo tirto.
Budayawan Mojokerto Putut Nugroho mengungkapkan, fungsi utama Kolam Segaran untuk mengendalikan banjir sekaligus menampung air ketika musim penghujan.
Di sisi lain, kolam yang mampu menampung air maksimal 223.125 meter kubik itu juga dimanfaatkan mengairi persawahan.
”Pola pembagian air ke sawah ini menggunakan sistem adat subak, seperti di Bali,” katanya.
Sistem pengairan ini mengandalkan seorang petugas yang membagi aliran air sesuai dengan kebutuhan petani.
Di tengah masyarakat Jawa Kuno, tugas itu diemban oleh seorang jogo tirto (penjaga air).
Jogo tirto berperan penting agar terjadi perebutan sumber irigasi. Putut menyebut, tugas seorang jogo tirto yakni memastikan kebutuhan air petani tercukupi.
Mereka juga memiliki kewenangan menyudet atau mengalihkan saluran air apabila terdapat kawasan yang lebih membutuhkan.
”Masyarakat saat itu punya tingkat disiplin dan kepatuhan yang tinggi kepada jogo tirto,” tutur anggota Dewan Kebudayaan Daerah Kota Mojokerto tersebut.
Tingginya kepatuhan itu berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Majapahit yang menganggap raja sebagai representasi dewa di Bumi.
Mereka begitu patuh dan takut kuwalat apabila tidak manut. Jogo tirto sebagai perangkat pemerintahan secara tidak langsung ikut menjadi sosok yang disegani. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah