Di wilayah Trowulan, yang dianggap sebagai ibukota kerajaan, banyak ditemukan penginggalan waduk, kolam, dan kanal.
Keberadaan bangunan itu erat kaitannya dengan upaya menanggulangi banjir dan kekeringan.
Dalam berbagai penelitian populer, teknologi hidrologi Majapahit ditopang dengan keberadaan sejumlah waduk yang saling menampung aliran air.
Budi Santoso Wibowo dalam jurnal Keberadaan Waduk dan Kanal Kuno di Pusat dan Sekitar Ibukota Majapahit (Trowulan) menyebut, terdapat sekitar 20 waduk yang tersebar di dataran utara Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno.
Yadi Mulyadi, arkeolog Universitas Hasanuddin menyatakan, enam dari 20 waduk tersebut berhubungan dengan Kota Majapahit (Trowulan).
Meliputi Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, Kraton dan Kedung Wulan.
’’Di samping waduk-waduk tersebut, di Trowulan terdapat tiga kolam buatan yang letaknya berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder, dan Balong Dowo,’’ ujarnya dalam jurnal Melacak Jejak Keberadaan Kanal Majapahit di sisi Selatan Situs Lantai Segi Enam.
Kolam Segaran memperoleh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton. Kolam seluas 6 hektare di Dusun Unggahan, Desa/Kecamatan Trowulan, itu diyakini menjadi salah bangunan penting pengendalian air di kawasan Ibukota Majapahit.
Selain mencegah air meluap ke permukiman yang dapat menyebabkan banjir, kolam buatan itu juga berfungsi menjadi penadah air hujan untuk mencegah kekeringan.
Melalui penelitiannya, Budi Santoso menyimpukan jika Kolam Segaran juga menampung air dari kolam Balong Bunder dan mengalirkannya ke kolam Balong Dowo.
Menurutnya, waduk-waduk kuno saling berhubungan satu sama lain dan dihubungkan dengan terusan atau sungai kecil.
Pembangunan waduk dengan kanal-kanal tak lepas dari kesadaran elit kerjaaan terhadap ancaman bencana.
Alifah dalam buku Majapahit: Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya mengungkapkan, masyarakat Majapahit memahami betul ancaman tersebut dan mengantisipasinya dengan pembangunan waduk.
Berdasarkan fungsinya, waduk-waduk yang ada di situs Trowulan dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok barat laut dan kelompok timur.
Waduk-waduk yang ada di kelompok barat laut berfungsi sebagai jalur transportasi air. ’’Sebagai contoh adalah waduk Temon,’’ ucapnya.
Terdapat dua kanal kuno yang bermuara di sungai Temon dari arah barat. Dalam prasasti Canggu juga disebutkan bahwa tempat penyeberangan kali pertama adalah Temon.
Hal ini menguatkan alasan keyakinan jika waduk Temon sebagai terminal air. Adapun kelompok kedua adalah kelompok timur. Waduk-waduk yang ada di kelompok timur mempunyai fungsi
sebagai penyeimbang debit air. ’’Sehingga pada musim hujan tidak terjadi banjir dan pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah