Destinasi wisata sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Berikut rekomendasi destinasi wisata bersejarah peradaban Majapahit di kecamatan tersebut.
1. Museum Majapahit di Trowulan
Akses pengunjung untuk menjamah museum ini sangatlah mudah. Tepatnya di seberang Kolam Segaran. Harga tiket masuk yang terjangkau menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Mulai dari Rp 1.500 untuk anak-anak hingga pelajar maupun mahasiswa. Sedangkan pengunjung dewasa sebersar Rp 2.500. Untuk perseorangan secara umum dikenai Rp 5 ribu.
Keistimewaan dari museum ini tak lain karena mengoleksi benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Ruangan dalam museum ini pun terbagi menjadi dua. Meliputi ruang pamer yang digunakan untuk memajang artefak berukuran relatif kecil, mata uang, prasasti, hingga peralatan rumah tangga kuno. Kedua, di pendapa sebagai tempat memamerkan artefak berukuran besar. Seperti arca, relief, kala, yoni, dan beberapa benda kuno lainnya.
Sayangnya, kunjungan ke museum tutup pada hari Senin dan hari libur Nasional. Buka kembali pada Selasa-Minggu jam 07.30 hingga 15.30 WIB. Sedangkan pada hari Jumat tutup pukul 11.30 hingga 12.30 WIB.
2. Candi Bajang Ratu
Candi Bajang Ratu berada di Dusun Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Wisatawan dapat mengunjungi bangunan gapura tersebut dengan membayar tiket Rp 3 ribu per orang.
Candi Bajang Ratu merupakan bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit dengan tipe paduraksa atau gapura yang memiliki atap. Pada gapura tersebut hiasan panil yang menggambarkan cerita Sri Tanjung. Sedangkan, di bagian ambang pintunya terdapat hiasan kala, dan sulur-suluran.
Gapura ini diperkirakan dibangun pada abad XIII-XIV, tak lain sebagai tempat pendharmaan wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328 Saka. Candi ini pernah dipugar pada masa penjajahan Belanda, tetapi tidak diketahui waktu pemugaran secara pastinya.
3. Candi Brahu
Candi Brahu terletak di Dusun Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Wisatawan dapat berkunjung ke candi ini hanya dengan merogoh Rp 3 ribu per orang.
Candi Brahudiperkirakan berasal dari kata wanaru atau waharu yang berarti sebuah bangunan suci.Pernah disebutkan dalam prasasti tembaga Alasantan, yang ditemukan sekitar 45 meter dari Candi Brahu.
Candi Brahu disinyalir telah dibangun pada tahun 861 Saka, tepatnya pada 9 September 939 Masehi. Menurut masyarakat setempat, candi tersebut digunakan sebagai tempat menyimpan abu hasil pembakaran jenazah ketika masa Kerajaan Majapahit berlangsung.
Namun, ketika diteliti lebih lanjut oleh para arkeolog, pendapat masyarakat sekitar tidak dapat dibuktikan karena memang tidak ada bekas pembuangan abu pada bilik Candi Brahu.
4. Candi Wringin Lawang
Candi Wringin Lawang juga tak kalah menariknya untuk dikunjungi wisatawan. Candi ini berada di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Waktu operasional bukanya wisata bersejarah ini mulai jam 07.00 hingga 17.00 WIB. Tiket masuk untuk mengunjungi candi ini sebesar Rp 3 ribu per orang.
Penamaan candi tersebut berasal dari bahasa Jawa, yakni Wringin Lawang yang berarti pintu beringin. Candi tersebut sama seperti Candi Bajang Ratu karena berbentuk gapura. Perbedaannya terletak pada jumlah gapura hingga masa awal pembangunannya.
Masa pembangunan candi ini disinyalir telah terbangun pada abad ke-14 Masehi. Pemugaran pun pernah dilakukan pada candi ini mulai tahun 1991 hingga 1995. Jenis gapura candi ini adalah candi bentar atau gapura yang terbentuk dari dua bangunan kembar tanpa atap.
Para ahli sejarah menduga bahwa fungsi candi ini digunakan sebagai salah satu pintu gerbang menuju kompleks Ibu Kota Majapahit.
5. Candi Tikus
Candi Tikus terletak di Desa Temon, Kabupaten Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Penamaan candi tersebut dikarenakan ketika ditemukan, masyarakat setempat mengetahui bahwa tempat tersebut adalah tempat bersarangnya tikus.
Alhasil, hingga sekarang penamaannya pun menjadi ciri khas tersendiri yang menarik minat pelancong dari dalam maupun luar negeri. Candi ini semula terkubur dalam tanah dan ditemukan kembali pada 1914 atas hasil laporan Bupati Mojokerto, RAA Kromojoyo Adinegoro, terkait penemuan miniatur candi di pemakaman warga sekitar.
Candi Tikus mengalami pemugaran secara keseluruhan pada 1984 hingga 1985. Perkiraan pembangunan candi ini pada abad ke-13 hingga ke-14 Masehi.
6. Candi Minak Jinggo
Candi Minak jinggo berada 500 meter di sisi timur Kolam Segaran. Tepatnya, di Jalan Minak Djinggo, Unggaran, Unggahan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Waktu buka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Keunikan tersendiri dari candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini adalah mencampurkan penggunaan dua jenis batu bata. Meliputi, batu bata merah dan batu andesit yang menjadi satu-satunya situs bersejarah di kawasan Kecamatan Trowulan.
Candi yang disebut juga sebagai ”Sanggar Pamelengan” ini terdapat dua arca yang menggambarkan Mahakala atau Bairawa dengan ciri-ciri berwajah raksasa dengan mata melotot, bersanggul ular, bertaring, dan tangan kanannya memegang pisau belati.
Arca kedua diberi nama Kala Makara. Kini semuanya telah disimpan di Museum Majapahit, Trowulan. Candi Minak Jinggo meliputi dua bagian. Masing-masing susunan bata merah yang menyerupai labirin, dan di tengahnya terdapat tempat mirip altar yang digunakan oleh Raja Hayam Wuruk maupun keluarga Kerajaan Majapahit untuk ritual khusus.
Bagian kedua berupa tumpukan batu andesit yang terletak di sisi barat bangunan utama candi. Candi Minak Jinggo memiliki banyak relief dengan jumlah 64 panel yang sebagian berada di pelataran candi dan sisanya disimpan di Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM).
7. Patung Buddha Tidur
Patung Buddha Tidur di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto merupakan patung Buddha terbesar di Indonesia. Ukuran patungnya sepanjang 22 meter dengan lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter.
Patung Buddha Tidur dipahat oleh pematung dari Solo, Jawa Tengah dan pemahat Desa Bejijong di tahun 1993. Patung Buddha Tidur dicat warna emas karena warna tersebut ditujukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Buddha Gautama.
Patung ini menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah favorit wisatawan. Terlebih ketika weekend, sangat ramai dikunjungi masyarakat sekitar hingga wisatawan asing. Wisatawan yang ingin melihat megahnya patung tersebut dapat membayar sebesar Rp 5 ribu per orang, dan Rp 3 ribu untuk anak-anak.
Selain menjadi destinasi wisata, Patung Buddha Tidur, utamanya digunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha. Karena memang letaknya yang berdekatan dengan Maha Vihara Majapahit. Tidak heran nuansa toleransi antar umat beragama pun sangat terasa di tempat tersebut.
8. Pendapa Agung Trowulan
Tempat bersejarah yang menjadi saksi bisu terlontarnya Sumpah Palapa dariMaha Patih Gajah Mada ini berada di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Bangunan pendapa bekas Pendapa Kerajaan Majapahit ini dibangun lebih baik lagi oleh Kodam V Brawijaya melalui Yayasan Bina Majapahit pada 1964 hingga 1973. Para wisatawan dalam negeri maupun mancanegara dapat berkunjung ke Pendapa Agung untuk melihat peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit itu.
Bangunan pendapo ini berbentuk joglo,dilengkapi dengan tiang utama beralaskan batu umpak peninggalan Kerajaan Majapahit. Lantainya menggunakan marmer. Atapnya terbuat dari kayu.
Bagian depan pendapa, berdiri patung Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit yang di atasnya terdapat payung, seperti di kerajaan berwarna keemasan. Di bagian belakang bangunan pendapa, terdapat relief yang mengisahkan sejarah Kerajaan Majapahit.
Di sana terdapat pula sebuah tugu prasasti yang di atasnya ada patung Maha Patih Gajah Mada sedada. Patung itu diresmikan pada 22 Juni 1986 oleh Komando Pusat Polisi Militer Mojokerto. Di bagian depan patung tersebut, terdapat monumen bertuliskan komitmen para tokoh bangsa untuk tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang ditandatangani pada 21 Februari 2008.
9. Kolam Segaran
Berseberangan dengan Museum Majapahit di Trowulan, kolam kuno terbesar peninggalan Kerajaan Majapahit ini berada di Dusun Unggaran, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kolam Segaran ditemukan pada tahun 1926, dalam keadaan tertimbun tanah.
Pada tahun 1966, kolam kuno ini mengalami pemugaran sekadarnya. Barulah tahun 1974 dimulai pelaksanaan pemugaran yang lebih terencana dan menyeluruh, hingga memakan waktu selama satu dekade. Kolam bersejarah ini dapat dikunjungi oleh siapa pun tanpa membayar tiket masuk. Bahkan, dapat digunakan sebagai rekomendasi tempat untuk jogging di hari libur atau sekadar menikmati pesona riak air kolam kuno peninggalan Kerajaan Majapahit.
Berdasarkan informasi yang berkembang dari warga setempat, Kolam Segaran digunakan oleh keluarga Kerajaan Majapahit untuk menghelat suatu pesta, upacara, maupun menjamu tamu asing.
Sebelum pesta perjamuan berakhir, tamu undangan disuguhkan adegan pembuangan piranti makan dan minum berbahan emas untuk menunjukkan kebesaran, kekayaan, dan kemegahan Kerajaan Majapahit ke dalam kolam tersebut. Dinding kolam yang terbuat dari batu bata merah kuno membuat pengunjung bernostalgia ke zaman Kerajaan Majapahit.
10. Makam Troloyo
Tak hanya bangunan bersejarah dengan berbagai situs berbatu bata merah. Trowulan juga menyuguhkan rekomendasi wisata religi. Berada di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Makam Troloyo merupakan kompleks pemakaman umat Islam yang masih memiliki hubungan trah dengan Kerajaan Majapahit.
Tak hanya itu, kompleks pemakaman tersebut juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan niagawan Islam yang singgah di wilayah Kerajaan Majapahit.
Menariknya, kata Tralaya dalam penamaan wisata sejarah religi ini berasal dari kata setra dan pralaya. Setra artinya tanah lapang untuk menguburkan jenazah.Sedangkan pralaya berarti rusak atau mati. Kedua kata tersebut pun akhirnya digabungkan menjadi Tralaya.
Di kompleks pemakaman Troloyo, terdapat satu bangunan yang paling sering dikunjungi wisatawan untuk berziarah. Makam Syekh Jumadil Kubro atau biasa dikenal dengan Mbah-nya Walisongo. Makam tersebut cukup disakralkan para wisatawan untuk melantunkan berbagai doa.
Pada hari-hari tertentu, seperti malam Jumat Legi, Grebeg Sura, hingga Haul Syekh Jumadil Kubro digelar upacara adat yang semakin menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan berziarah.
Wisata sejarah religi Makam Troloyo pun menjadi destinasi wisata yang kondang dikunjungi masyarakat setempat hingga luar daerah. Bahkan, rombongan siswa-siswi suatu lembaga pendidikan di dalam maupun di luar Mojokerto turut berziarah ke Makam Troloyo. (sevira/ris)
Editor : Fendy Hermansyah