Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, Trowulan menjadi salah satu titik vital dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Selain pernah menjadi garis batas status quo yang membelah wilayah Republik Indonesia dan Belanda, Trowulan juga ditunjuk menjadi tempat pertemuan penting di pengujung masa revolusi 1949.
Tepatnya setelah disepakatinya Perjanjian Roem-Roijen terkait gencatan senjata antara pejuang kemerdekaan dan pasukan kolonial. ’’Saat itu, pelaksanaan gencatan senjata diserahkan pada tiap komandan militer daerah,’’ terangnya.
Di wilayah Jawa Timur (Jatim), kewenangan berada pada Gubernur Militer Jatim yang dijabat Kolonel Sungkono. Sedangkan dari kolonial diwakili Divisi A Angkatan Darat Belanda yang bermarkas di Surabaya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, kedua belah pihak akhirnya menjadwalkan agenda perundingan.
Pertemuan penting ini dilakukan untuk membahas kesepakatan untuk gencatan senjata. ’’Akhirnya, tempat pertemuan yang disepakati adalah di Trowulan,’’ tandasnya.
Penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto Tahun 19945-1950 ini menyebut, peristiwa yang dikenal dengan Perundingan Trowulan itu digelar di Gedung Museum Majapahit Trowulan atau eks BPCB Jatim.
Pada 13 Agustus 1949, gedung yang kini ditempati Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI ini menjadi lokasi pertemuan tokoh-tokoh dari kedua belah pihak tanggal 13 Agustus 1949.
Peristiwa bersejarah kembali terukir di bumi Wilwatikta dengan disepakatinya cease fire atau gencatan senjata.
Kesepakatan dalam Perundingan Trowulan itu langsung disambut dengan kemeriahan jelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-4 RI.
Yuhan menyebut, hasil kesepakatan yang dilakukan di Trowulan kemudian menjadi dasar gencatan senjata di seluruh wilayah Jatim.
Pasca pertemuan itu juga membuka jalan bagi para pejuang menyusup ke wilayah musuh dan berhasil membubarkan Negara Djawa Timur (NDT) yang dibentuk Belanda.
’’Sehingga, Trowulan menjadi titik balik dari terbentuknya NKRI setelah revolusi kemerdekaan,’’ tandas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah