Mulai pemenuhan kebutuhan pangan atau dikonsumsi, aktivitas pertanian, alat transportasi, hingga tunggangan perang.
"Tidak bisa dipungkiri kalau di zaman Majapahit itu masyarakatnya sudah beternak," ujar Putut Nugraha, budayawan Mojokerto.
Menurutnya, ada beragam jenis hewan atau komoditas yang masif diternak kala itu. Mulai dari sapi, kerbau, kambing, ayam, anjing, babi, kuda, hingga gajah.
Beragam jenis hewan yang diternak, lanjut Putut, menyesuaikan tujuan dan manfaat ternak hewan itu sendiri.
Kerbau dan sapi, selain untuk transportasi menarik pedati atau kereta, juga untuk membajak sawah dengan luku.
"Sedangkan untuk kuda dan gajah ini diternak untuk tunggangan perang tentara Majapahit. Bahkan gajah jadi tunggangan raja saat keliling ke pelosok," sebutnya.
Menurut Putut, sejumlah hewan tersebut diternak lantaran pemanfaatannya dibutuhkan dalam jumlah banyak.
Salah satunya, kuda yang digunakan untuk tunggangan sebagaian pasukan perang Wilwatikta.
Untuk penjelasan secara rinci teknik atau sistem ternak yang digunakan saat itu, masih belum ada data yang lengkap.
Tapi yang jelas, karena hewan tersebut banyak dimanfaatkan masyarakat artinya saat itu sudah ada proses ternak, sebut anggota Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Diterangkannya, peternakan di era Majapahit jauh berbeda dengan era modern yang sudah mengenal sistem kandang komunal.
Merujuk pada gambaran panel relief Candi Rimbi dan Candi Surowono yang dibangun pada masa Wilwatikta.
"Justru ternak kala itu seolah tidak ada jarak dengan manusia. Hewan ternak terlibat aktivitas sehari-hari dengan pemiliknya. Bahkan, arahnya ternak kala itu tidak ditempatkan di kandang tersendiri," tandas Putut. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah