Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Peternakan Era Majapahit, Untuk Kebutuhan Pertanian hingga Tunggangan Perang

Martda Vadetya • Sabtu, 26 Agustus 2023 | 15:10 WIB

BERSEJARAH: Relief Kisah Panji Situs Gambyok Koleksi Unit PIM BPK Wilayah XI Jatim menunjukkan kereta kuda atau pedati sebagai transportasi darat pada masa Majapahit. (Martda Vadetya/JPRM)
BERSEJARAH: Relief Kisah Panji Situs Gambyok Koleksi Unit PIM BPK Wilayah XI Jatim menunjukkan kereta kuda atau pedati sebagai transportasi darat pada masa Majapahit. (Martda Vadetya/JPRM)
ADA beragam jenis hewan ternak yang dipelihara dan dikembangbiakkan oleh masyarakat Majapahit. Hal ini merujuk pada tujuan dan manfaat dari budidaya ternak itu sendiri.

Mulai pemenuhan kebutuhan pangan atau dikonsumsi, aktivitas pertanian, alat transportasi, hingga tunggangan perang.

"Tidak bisa dipungkiri kalau di zaman Majapahit itu masyarakatnya sudah beternak," ujar Putut Nugraha, budayawan Mojokerto. 

Menurutnya, ada beragam jenis hewan atau komoditas yang masif diternak kala itu. Mulai dari sapi, kerbau, kambing, ayam, anjing, babi, kuda, hingga gajah.

Beragam jenis hewan yang diternak, lanjut Putut, menyesuaikan tujuan dan manfaat ternak hewan itu sendiri. 

Kerbau dan sapi, selain untuk transportasi menarik pedati atau kereta, juga untuk membajak sawah dengan luku.

"Sedangkan untuk kuda dan gajah ini diternak untuk tunggangan perang tentara Majapahit. Bahkan gajah jadi tunggangan raja saat keliling ke pelosok," sebutnya. 

Menurut Putut, sejumlah hewan tersebut diternak lantaran pemanfaatannya dibutuhkan dalam jumlah banyak.

Salah satunya, kuda yang digunakan untuk tunggangan sebagaian pasukan perang Wilwatikta.

Untuk penjelasan secara rinci teknik atau sistem ternak yang digunakan saat itu, masih belum ada data yang lengkap.

Tapi yang jelas, karena hewan tersebut banyak dimanfaatkan masyarakat artinya saat itu sudah ada proses ternak, sebut anggota Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini. 

Diterangkannya, peternakan di era Majapahit jauh berbeda dengan era modern yang sudah mengenal sistem kandang komunal.

Merujuk pada gambaran panel relief Candi Rimbi dan Candi Surowono yang dibangun pada masa Wilwatikta.

"Justru ternak kala itu seolah tidak ada jarak dengan manusia. Hewan ternak terlibat aktivitas sehari-hari dengan pemiliknya. Bahkan, arahnya ternak kala itu tidak ditempatkan di kandang tersendiri," tandas Putut. (vad/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #pertanian #peternakan #mojokerto #perang