Ayuhanafiq menambahkan, masuknya pasukan kolonial pada 17 Maret 1947 di Mojokerto membuat markas TRIP ditinggalkan anggota. Sebab, gedung sekolah yang kini menjadi SMPN 1 Mojokerto diserang dengan berondongan senjata oleh Belanda.
”Markas sekaligus asrama kemudian dikosongkan untuk menyelamatkan diri,” sambungnya.
Dikatakannya, para tentara pelajar memilih untuk mundur ke Kediri. Bahkan, sebagian besar ter dengan tangan kosong. Karena senjata terpaksa ditinggalkan di markas TRIP.
Sejak saat itu, pasukan yang dibentuk dari kalangan usia sekolah ini pun kian tenggelam.
Yuhan mengatakan, TRIP akhirnya bubar karena banyak dari anggotanya memilih untuk kembali melanjutkan sekolah.
”Sehingga, TRIP akhirnya resmi dihapus dari struktur militer setelah kemerdekaan,” imbuhnya.
Hingga saat ini, bekas markas TRIP yang masih tersisa adalah gedung SMPN 1 Mojokerto. Bahkan, bnangunan yang kini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya itu masih terjaga keasliannya.
Upaya serupa juga pernah dilakukan di eks markas TRIP di Desa Parengan, Jetis. Sayangnya, bangunan yang terakhir kali dipugar pada dilakukan 1976 kini sudah tidak tersisa lagi. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah