”Waktu itu kapal Majapahit masih belum pakai roda kemudi. Justru, pakai kemudi ganda seperti dayung yang letaknya di lambung kanan dan kiri kapal,” terang Putut Nugraha.
Seperti yang dijelaskan dalam Suma Oriental karya Tome Pires (1465-1540) yang merupakan penulis sekaligus penjelajah berkebangsaan Portugis.
Dayung berbahan kayu untuk kemudi kapal ini pun memiliki dimensi yang lebih besar dibanding dayung pendorong kapal. Utamanya, pada bagian daun atau bilah dayung.
”Tentu dayungnya lebih besar dan panjang, apalagi letak dayung ini di buritan yang relatif lebih tinggi dari geladak kapal,” terang alumnus Universitas Gadjah Mada ini.
Diterangkannya, kemudi dayung ini digerakkan satu atau dua tenaga manusia. Mereka yang di bagian kemudi akan menggerakkan dayung sesuai aba-aba atau arahan sang nahkoda kapal.
Hingga merubah arah dan haluan kapal sesuai tujuan.
”Jadi untuk mengoperasikan atau menggerakkan Jung Majapahit ini memang melibatkan banyak orang. Bahkan di masing-masing bagian, seperti bagian kemudi atau layar, itu ada masing-masing pemimpin untuk mengaturnya,” bebernya.
Putut menyebut, kala itu kapal dengan roda kemudi identik dengan armada ciptaan bangsa eropa. Seperti kapal Galleon atau Flor de la Mar yang rampung dibuat awal abad ke-16 masehi.
Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan kemudi kapal modern saat ini yang sudah mengandalkan mesin bersistem hidrolik atau elektrik.
Di mana salah satu fungsi sistem kemudi ini sendiri berperan penting untuk menyandarkan kapal di dermaga.
”Agar Jung Majapahit ini tidak hanyut saat berlabuh, banyak sumber menyebut saat itu pakai jangkar dari keranjang tali atau serat-serat kayu yang diisi batu. Dua jangkar di bagian depan dan dua di belakang. Seiring jalannya waktu, bentuk jangkar berubah seperti luku (bajak) yang terbuat dari logam,” tandas Putut. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah