Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ini Cerita Akhir Masa Pendudukan Jepang di Mojokerto

Rizal Amrulloh • Kamis, 3 Agustus 2023 | 15:00 WIB

BUAH PERJUANGAN: Halaman Pemkab Mojokerto dapat menjadi tempat pengibaran bendera merah putih setelah berakhirnya masa pendudukan Jepang pada Agustus 1945.
BUAH PERJUANGAN: Halaman Pemkab Mojokerto dapat menjadi tempat pengibaran bendera merah putih setelah berakhirnya masa pendudukan Jepang pada Agustus 1945.
Jadi Sasaran Aksi Balas Dendam dan Penjarahan

MASA pendudukan Jepang di tanah air berakhir pada bulan Agustus 1945. Di Mojokerto, runtuhnya kekuasan pasukan Nippon disambut suka cita.

Selain itu, pasukan Nippon sekaligus wilayah kekuasaannya menjadi sasaran aksi balas dendam dan penjarahan setelah mengaku menyerah.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, tanda-tanda kekalahan Jepang mulai tampak sejak 15 September 1944. Saat itu, kekuatan pasukan negeri matahari terbit di sejumlah wilayah kekuasaannya mampu dikalahkan pasukan sekutu dalam perang Asia Pasifik.

”Tapi, Jepang masih berusaha untuk mempertahankan kekuasaannya di wilayah Jawa,” terangnya.

Jepang kemudian berinisiatif untuk meningkatkan kekuatan dengan merangkul penduduk lokal. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, pengalaman pasukan itu merupakan siasat bagi pasukan Nippon untuk menyusun perang gerilya.

Karena itu, Jepang membentuk organisasi Jawa Hokokai yang menjadi cikal bakal terbentuknya pasukan PETA atau Pembela Tanah Air. ”Jepang melatih kalangan pemuda tentang ilmu militer,” tandas Yuhan.

Pembentukan tentara sukarelawan tersebut juga disusul dengan lahirnya organisasi pejuang pemuda lainnya yang disatukan pada Fujinkai. Di balik itu, tenaga pribumi itu disiapkan Jepang untuk menghadapi pasukan sekutu.

Selain pertahanan, imbuh Yuhan, Jepang juga menyiapkan tempat perlindungan. Di Mojokerto, pasukan Jepang juga sempat membuat goa di wilayah Kecamatan Pacet. Tempat untuk berlindung dan menyimpan logistik itu berada di lereng Gunung Welirang.

”Goa dibuat untuk menyimpan bahan makanan dan bertahan oleh pasukan Jepang,” papar penulis buku Revolusi di Pinggir Kali, Pergerakan di Mojokerto Tahun 1945-1950 ini.

Namun, strategi perang gerilya ternyata tidak berjalan seperti yang direncanakan. Karena Jepang menyerah tanpa syarat setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945.

Masyarakat pun turut menyambut kekalahan Jepang dengan suka cita. Puncaknya terjadi saat Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Dikatakan Yuhan, rakyat di pedesaan juga ikut menyambut dengan beramai-ramai mengusir pasukan Jepang dari wilayah Mojokerto.

Bahkan, momen kekalahan Jepang juga dijadikan sebagai ajang pembalasan dendam atas kekejaman pasukan Nippon.

Sehingga, suasana menyambut kemerdekaan juga diwarnai dengan aksi penjarahan.

Yuhan menyatakan, salah satu yang menjadi sasaran penjarahan adalah gudang dan toko yang menyediakan bahan pangan. Selain itu, penjarahan juga merambah pabrik gula.

Setelah dikuras isinya, lokasi yang sebelumnya dikuasai Jepang ini juga dirusak dan dibakar. ”Rakyat bisa leluasa menjarah karena polisi bentukan Jepang sudah tidak lagi menjaga keamanan,” tandas dia. (ram/ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #jepang #sejarah #mojopedia #Cerita #mojokerto #akhir #kependudukan #onde-onde #di