Ditemukan dalam kondisi berkarat, benda arkeologi berupa senjata tradisional tersebut disinyalir merupakan peninggalan Majapahit.
Sebilah mata tombak kuno tersebut ditemukan tepat di hari penggalian ke-13 situs peninggalan era Raja Hayam Wuruk, kemarin sore.
Kali pertama mata tombak ditemukan tim ekskavasi saat menggali sisi utara Lapangan Klinterejo.
Di kedalaman sekitar 50 sentimeter (cm), mata tombak berukuran sekitar 30 cm X 4 cm tersebut ditemukan dalam posisi membujur dari timur ke barat tanpa gagang tombak dengan ujung tuas yang bengkok.
’’Mata tombak ini kami temukan di atas struktur pagar atau pembatas ruangan. Dalam kondisi korosi tanpa ada gagang. Jadi bilahnya saja,’’ ungkap Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan-Klinterejo sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim M Ichwan.
Dijelaskannya, mata tombak kuno kuno tersebut memiliki karakter tersendiri. Menebal di bagian tengah dan semakin runcing di ujung tanpa ada kelokan layaknya keris.
Walau artefak ini ditemukan di dalam komplek elit situs peninggalan Majapahit, pihaknya enggan berspekulasi lebih jauh soal masa pembuatan.
Sebab, lanjut Ichwan, untuk menentukan masa pembuatan artefak tersebut masih butuh proses panjang.
’’Kami cari referensi dulu, benda ini punya gaya atau langgam dari kerajaan apa. Saat ini kita angkat dulu untuk dianalisis lagi nanti,’’ ujar arkeolog berusia 51 tahun ini.
Ichwan tak menampik, mata tombak tersebut merupakan kali pertama artefak senjata ditemukan di sektor Bhre Kahuripan-Klinterejo.
Tak pelak, ini menjadi salah satu temuan penting yang memperkaya ragam benda cagar budaya yang didapat di Situs Pendarmaan Tribuana Tunggadewi itu. Sekaligus memperkuat sejumlah asumsi yang masih luas.
’’Setelah ini, sementara akan kita bawa ke Bidang Konservasi (BPK XI Jatim) untuk kita observasi lebih lanjut,’’ tandas arkeolog asal Klaten ini. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah