SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Hampir semua situs peninggalan Kerajaan Majapahit di zona kawasan cagar budaya nasional (KCBN) Trowulan ditemukan dalam kondisi rusak. Baik karena faktor alam maupun manusia.
Fenomena itu juga terjadi pada situs Bhre Kahuripan-Klinterejo merujuk hasil ekskavasi tahap VI hari ke-13.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan-Klinterejo sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim M Ichwan menuturkan, pekan kedua penggalian sisi barat lapangan, pihaknya mendapati sejumlah temuan.
Di antaranya, fragmen genting dan ukel kuno yang berserakan di sekitar struktur pagar situs yang ditampakkan tim ekskavasi.
’’Pada hari ke-13 ini, pola kerungan situs mulai terlihat namun masih terus kami kejar. Dari temuan yang ada ini apakah ada bangunan penyerta (di sekitar pagar) atau tidak,’’ terangnya.
Juga, lanjut dia, didapati sekitar enam lubang berdiameter sekitar 20 sentimeter (cm) dengan kedalaman sekitar 15 cm di struktur pagar. Yang titiknya tersebar tidak simetris di bagian tengah pagar.
’’Kalau aktivitas pengerusakan karena manusia, mungkin saja. Karena memang saat ini kemungkinannya masih luas,’’ ujar Ichwan.
Pihaknya juga mendapati sejumlah indikasi adanya pengerusakan di komplek elit peninggalan Raja Hayam Wuruk tersebut. Mulai dari banyaknya bata utuh yang lepas tak beraturan hingga komponen struktur pagar yang rusak menggantung di dalam tanah.
’’Bisa jadi juga ada usaha untuk mengambil bata kuno atau mereka membuat (tiang) peneduh tepat di atas struktur waktu itu,’’ ungkap arkeolog asal Klaten ini.
Ichwan menyebut, lubang tersebut juga mengarah pada hipotesa lain. Yakni lubang untuk landasan struktur tiang penyangga banguan era Majapahit.
’’Bisa jadi bekas tiang penyangga. Tapi sejauh ini umumnya landasan (pondasi) itu pakai umpak walaupun material bangunannya pakai bata kuno. Nah, bangunan penyerta atau yang menempel ini yang sedang kita cari,’’ bebernya.
Selain itu, tim arkeolog juga tengah mencari tinggi tanah halaman komplek situs pada kala itu. Di antaranya untuk memudahkan penelusuran komponen dan struktur pagar yang ada.
’’Untuk tinggi halaman tanah masih belum diketahui,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah