BUNGKER tersebut berada di halaman Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jalan A. Yani dan di kompleks kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kota Mojokerto, Jalan Letkol Sumarjo.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, bangunan yang menyerupai bongkahan batu tersebut diperkirakan dibangun saat berkecamuknya Perang Dunia II.
Untuk mengantisipasi serangan udara, di Kota Mojokerto yang dulu mayoritas penduduknya merupakan warga berkebangsaan Eropa berinisiatif membangun tempat persembunyian. ”Bungker dibangun untuk menjadi perlindungan di bawah tanah,” terangnya.
Di Jalan A. Yani, bungker dibangun di halaman luar bangunan GPIB Immanuel. Konstruksi fisik dibentuk setengah kubah dengan pintu masuk kecil dari sisi sampingnya.
Material bangunan menggunakan bahan beton yang cukup tebal. ”Bungker dibangun berbahan beton dengan ketebalan yang mampu menahan ledakan bom,” ulasnya.
Bungker dengan bentuk serupa juga dibangun di Jalan Letkol Sumarjo yang berjarak kurang lebih 300 meter dari GPIB.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, di dalamnya diduga terdapat ruangan lantaran pada bagian atas bungker dilengkapi dengan lubang ventilasi udara.
Sayangnya, ruang bawah tanah itu belum bisa dijangkau lantaran akses masuknya yang kini telah tertutup dengan sampah. Berdasarkan letak keduanya, Yuhan menduga bungker itu dipersiapkan sebagai tempat perlindungan bagi warga Eropa yang tinggal di permukiman elite di sekitarnya.
Di samping itu, bungker juga dimungkinkan dibangun untuk melindungi para pendeta.
bungkerBaca Juga: Kisah Warga Mojokerto Seorang Diri Bikin Bungker Sedalam 15 Meter (1)
”Karena kedua buah bungker didirikan di dekat gereja Protestan dan gereja Katolik,” tandas Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Meski tidak ada catatan yang dapat menjadi rujukan pembangunan kedua buah bungker, namun keberadaannya diperkirakan dibangun kisaran tahun 1941-1942.
Sebab, imbuh Yuhan, jelang kedatangan pasukan Jepang ke Mojokerto, Luch Bescherming Dienst (LBD) Mojokerto atau Dinas Pertahanan Udara Hindia-Belanda tengah membangun tempat perlindungan dan juga sirine yang memberi peringatan tanda bahaya saat ada serangan udara dari tentara Nippon. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah