Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Teknologi Lumpang Era Majapahit, Teruskan Produk Budaya Masa Neolitikum

Martda Vadetya • Sabtu, 22 Juli 2023 | 15:25 WIB

WARISAN PERADABAN: Selain fungsi utamanya untuk menumbuk padi, lesung dapat dimanfaatkan menjadi instrumen seni.
WARISAN PERADABAN: Selain fungsi utamanya untuk menumbuk padi, lesung dapat dimanfaatkan menjadi instrumen seni.
PEMANFAATAN teknologi sederhana di era Majapahit tak semuanya dicetuskan masyarakat kala itu. Justru, sebagian besar teknologi maupun teknik yang diterapkan di abad ke 13-16 Masehi itu meneruskan yang ada di masa dan peradaban sebelumnya.

Salah satunya yakni lumpang atau lesung yang konon masif digunakan masyarakat Wilwatikta. Alat dengan permukaan dilubangi hingga cekung itu konon sudah ada dan diteruskan sejak masa prasejarah.

Yakni pada masa neolitikum atau 10.000 tahun sebelum masehi (SM) yang masyarakatnya sudah bercocok tanam dan tinggal menetap.

”Sangat memungkinkan sekali (meneruskan alat dan teknologi dari masa sebelumnya). Hanya saja, penerapannya di Nusantara ada perbedaan,” terang Budayawan Mojokerto Putut Nugraha.

Menurutnya, ada sejumlah perbedaan dalam penerapan dan pemanfaatan lumpang dan lesung oleh masyarakat Majapahit. Baik dari segi bentuk fisik maupun nilai yang tersirat dari penggunaan teknologi sederhana tersebut.

WARISAN PERADABAN: Selain fungsi utamanya untuk menumbuk padi, lesung dapat dimanfaatkan menjadi instrumen seni.
WARISAN PERADABAN: Selain fungsi utamanya untuk menumbuk padi, lesung dapat dimanfaatkan menjadi instrumen seni.

”Di masa prasejarah, masyarakatnya tidak mengaitkan alat dan aktivitasnya dengan keyakinan yang ada. Kalau di era Majapahit, ada sentuhan agama di dalamnya. Bisa dibilang bagian dari proses akulturasi nilai dan budaya Hindu-Buddha dengan apa yang ada di masyarakat lokal,” beber Anggota Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Tak pelak, lanjutnya, hal ini membuat keyakinan Hindu-Buddha kala itu melekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Namun, merujuk pada budaya Hindu-Buddha yang berkembang pesat pada abad ke 13-16 M, aktivitas menumbuk padi dengan lumpang justru masif dilakukan di Nusantara. Ketimbang dilakukan masyarakat India yang menjadi kiblat persebaran agama Hindu-Buddha kala itu.

Sehingga, seluk beluk proses pengolahan gabah menjadi beras dengan lumpang dan lesung berkembang menjadi nilai budaya.

”Di India justru tidak terekspos ada tidaknya. Data yang berkembang belakangan ini, menumbuk dengan lumpang dan lesung lebih banyak dilakukan di Nusantara,” tukasnya. (vad/ron)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#neolitikum #Majapahit #teknologi #kota #mojosains #produk #budaya #kerajaan #Lumpang #kabupaten #mojokerto #trowulan