Sehingga, bangunan di sekitarnya dapat terhindar dari pergerakan tanah yang identik dengan bencana alam. Talut merupakan struktur dinding penahan lapisan tanah. Mirip seperti fondasi pada konstruksi bangunan yang ada di zaman sekarang.
Namun, kala itu fungsi dan cakupan talut lebih luas ketimbang fondasi. Yakni, menahan lapisan tanah dalam sebuah kawasan permukiman ataupun kompleks bangunan suci. Sejumlah sumber menyebut, talut memiliki jenis yang beragam. Namun, yang kerap didapati pada peninggalan Majapahit yakni talut bata kuno dan batuan gunung atau boulder.
”Di era Majapahit banyak situs yang terdapat struktur talut. Yang paling gampang, di Situs Kolam Segaran dan Kumitir,” ungkap budayawan Mojokerto Putut Nugraha. Yang paling kentara adalah di Situs Kumitir, Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo.
Situs istana bangsawan Majapahit dengan luas lebih dari 6 hektare itu dikelilingi struktur talut yang mencapai ratusan meter panjangnya. Talut tersebut dari susunan bata merah kuno khas Majapahit. Memiliki tinggi sekitar 1,5 meter di permukaan tanah dan lebar sekitar 1 meter.
Di mana adanya talut tersebut diyakini untuk mencegah meluasnya imbas bencana alam kala itu. Salah satunya, luapan banjir dari sungai Brangkal atau Pikatan. Lantaran posisi geografis situs pendarmaan dua raja Singosari tersebut ada di dataran banjir Sungai Brangkal.
Ditambah, letak Situs Kumitir berada di antara Gunung Arjuno-Welirang dan gugusan Pegunungan Anjasmoro yang dahulu masih aktif. Sehingga potensi bencana akibat pergerakan tanah dari aktivitas vulkanik pun relatif tinggi.
”Bisa dibilang talut ini struktur untuk meminimalisir dampak bencana, tinggal di mana peletakannya saja. Di lereng atau perbukitan untuk menekan dampak longsor ataupun di aliran sungai yang menahan erosi,” beber Anggota bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.
Sehingga, bisa dibilang struktur talut kala itu dibangun untuk mengantisipasi terjadinya bencana di Bumi Majapahit. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah