’’Untuk pemantik apinya ini yang belum diketahui pasti sampai sekarang. Di kitab-kitab kuno juga tidak disebutkan dan digambarkan jelas,’’ tutur Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D. Padahal, kala itu banyak proses pembakaran yang dilakukan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Selain urusan memasak, salah satunya yakni pembakaran tembikar yang memakan proses cukup panjang.
’’Pada masa Majapahit teknik pembakaran sudah relatif maju. Banyak benda-benda yang diciptakan dengan dibakar. Seperti terakota, bata, dan senjata (metalurgi),’’ beber pria asal Sidoarjo ini. Hal tersebut termasuk untuk alat penerangan celupak yang membutuhkan api agar bisa menerangi malam.
Tommy menganalisa, kemungkinan penggunaan batu dan kayu yang digosok untuk menyulut api kala itu sangat kecil. Sebab, cara tersebut dinilai terlalu usang bagi zaman masyarakat yang sudah masif berburu dan meramu. ’’Cara itu mungkin terlalu tua. Pada masa Majapahit kan api sudah jadi kebutuhan sehari-hari. Pasti sudah ada alat pamantiknya. Nah, pemantiknya apa, ini yang masih perlu dikaji lebih lanjut,’’ tandasnya.
Hal itu diperkuat dengan sudah dimanfaatkannya belerang oleh masyarakat Majapahit. Salah satunya, untuk campuran bahan peledak atau mesiu meriam cetbang. Sehingga dimungkinkan adanya alat untuk membuat api. Namun, karena sejumlah faktor, alat pemantik api era Majapahit tersebut masih misterius hingga kini. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah