Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Masa sebelum Listrik di Mojokerto, Andalkan Lampu Petromaks Jadi Penerangan

Fendy Hermansyah • Kamis, 8 Juni 2023 | 16:55 WIB
TINGGAL KENANGAN: Lampu petromaks yang dulu menjadi alat penerangan sebelum listrik masuk di wilayah Mojokerto. (Rizal Amrulloh/JPRM)
TINGGAL KENANGAN: Lampu petromaks yang dulu menjadi alat penerangan sebelum listrik masuk di wilayah Mojokerto. (Rizal Amrulloh/JPRM)
SEBELUM listrik masuk ke wilayah Mojokerto, lampu dengan bahan bakar minyak menjadi alat untuk mengusir kegelapan malam. Selain ublik atau lampu teplok, masyarakat juga mengandalkan lampu petromaks yang pancaran cahayanya menyala lebih terang.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, listrik masuk ke Kota Mojokerto pada kisaran tahun 1927 setelah terpasangnnya jaringan oleh Algemeene Nederlandsch Indiesche Electriciteit Maatschappij (ANIEM). Sebelum itu, permukiman di wilayah kota masih gelap saat malam tiba. ’’Di wilayah kota masih menggunakan lampu minyak untuk penerangan jalan yang dipasang pada tiang di trotoar,’’ ungkapnya.

Lampu minyak juga dipakai oleh sebagian warga. Rata-rata hanya digunakan untuk menerangi ruang tamu. Seiring berjalannya waktu, keberadaan ublik mulai jarang digunakan.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, meredupnya eksistensi lampu minyak mulai tergantikan dengan jenis lampu petromaks. Sebab, alat penerangan keluaran baru itu mampu memancarkan cahaya yang lebih terang. ’’Lampu petromaks juga tidak mengeluarkan asap atau jelaga seperti lampu teplok,’’ ujarnya.

Meski sama-sama menggunakan bahan bakar minyak tanah, cahaya yang dihasilkan juga lebih jernih dengan nyala berwarna putih. Berbeda jauh dengan lampu ublik yang kekuning-kuningan karena hanya mengandalkan sinar dari api yang menyala pada sumbu.

Awalnya, lampu petromaks atau yang juga sering disebut lampu stormking ini awal hanya dimiliki oleh kalangan warga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Pasalnya, ungkap Yuhan, saat itu harganya masih tergolong mahal.
Menurutnya, penggunaannya mulai meluas saat munculnya persewaan lampu petromaks. ’’Warga dengan ekonomi menengah ke bawah akhirnya bisa menggunakan lampu petromaks dengan menyewa,’’ ujar anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Namun, kebanyakan lampu petromaks disewa untuk keperluan kegiatan. Salah satunya saat warga menggelar hajatan. Karena kebutuhan penerangan, lambat laun lampu petromaks makin banyak dimiliki oleh masyarakat. Selain untuk menerangi rumah, lampu petromaks juga digunakan untuk musala dan masjid.

Karena kebutuhan minyak tanah semakin tinggi, di lingkungan masyarakat juga bermunculan pedagang minyak tanah keliling.’’Selain untuk bahan bakar lampu petromaks, saat itu minyak tanah juga dibutuhkan untuk menyalakan kompor,’’ papar Yuhan. (ram/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#lampu petromaks #kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #sebelum listrik #penerangan #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde