Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Teknologi Konstruksi Era Majapahit, Tanpa Semen, Andalkan Teknik Bata Gosok

Fendy Hermansyah • Sabtu, 13 Mei 2023 | 15:47 WIB
BATA KUNO: Struktur pondasi dari bata kosok ditemukan di kawasan Situs Bhre Kahuripan. (Martda Vadetya/JPRM)
BATA KUNO: Struktur pondasi dari bata kosok ditemukan di kawasan Situs Bhre Kahuripan. (Martda Vadetya/JPRM)
KERAJAAN Majapahit yang berdiri pada abad 13-16 Masehi telah menerapkan teknologi sederhana dalam aspek konstruksi. Hal itu terlihat dari kokohnya struktur batu bata kuno di sejumlah situs cagar budaya peninggalan Majapahit yang berdiri tanpa menggunakan semen. Melainkan hanya mengandalkan teknik bata kosok (gosok).

Secara umum, konstruksi di era Majapahit dibangun dari berbagai bahan utama. Mulai dari kayu, bata, hingga batu andesit. Namun begitu, bangunan berbahan bata relatif dominan. Sebab, kala itu batu bata dimanfaatkan untuk mendirikan kompleks hunian, candi, hingga istana raja (vassal seperti Situs Bhre Wengker/Kumitir).

Uniknya, para peneliti dan arkeolog yang mengkaji struktur situs cagar budaya di KCBN Trowulan tidak menemukan adanya semen yang digunakan untuk merekatkan bata satu dengan lainnya. ’’Karena memang masyarakat saat itu masih belum mengenal semen,’’ ungkap pemerhati tinggalan budaya Majapahit, Anam Anis.

Bisa dibilang, proses pembuatan bangunan berbahan batu bata tergolong rumit. Apalagi saat itu tidak memakai perekat semen. Penyusunan bata dilakukan dengan ketelitian tinggi. Bata satu dengan lainnya disusun dengan sangat presisi. Untuk merekatkan bata satu dengan lainnya, para tukang atau ahli konstruksi kala itu menerapkan teknik bata kosok. ’’Jadi bata-bata itu digosokkan satu sama lain dengan diberi sedikit air,’’ terangnya.

Dari proses pergesekan tersebut menghasilkan serbuk halus batu bata. Setelah dibiarkan mengering beberapa saat, serbuk bata tersebut berfungsi sebagai perekat layaknya semen. ’’Setelah kering merata, susunan bata-bata itu jadi merekat kuat seperti tembok yang disemen,’’ ujarnya. Bata kuno era Wilwatikta rata-rata berukuran sekitar 40x20 cm. Relatif jumbo ketimbang bata saat ini yang ukurannya hanya separonya.

Menurut Anam, ada beberapa pembeda antara bata kuno dengan bata produksi saat ini. Utamanya, kualitas tanah liat yang digunakan. ’’Kualitas tanah liat zaman dulu jauh lebih bagus daripada sekarang. Mungkin dulu tanahnya masih belum banyak tercemar ya,’’ tuturnya. Selain itu, lanjutnya, perbedaan proses panjang pembuatan batu bata. Salah satunya, dibakar dengan suhu panas mencapai ribuan derajat celcius layaknya membuat gerabah atau tembikar.

’’Dulu buat membakar bata itu pakai kayu, bukan sekam seperti sekarang ini. Bahkan prosesnya itu bisa sampai dua minggu. Jadi bata itu benar-benar matang, sampai warnanya juga paten,’’ tandasnya. (vad/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#bata gosok #kabupaten mojokerto #Majapahit #teknologi #tanpa semen #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #mojokerto #konstruksi #soekarno #trowulan #onde-onde #teknik bata