”Untuk lalu lalang transportasi (darat), saat itu sudah dibangun jalan di wilayah kekuasaan Majapahit. Sudah ada klasifikasi juga, baik jalan utama atau jalan penghubung,” jelas Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D. Namun begitu, kala itu jalan raya tak seperti sekarang. Baik dari aspek lalu lalang kendaraan hingga lebar atau luasan jalan. Lebar ruas jalan sekitar tiga hingga empat meter dan masih belum menggunakan aspal sebagai material utama.
”Waktu itu masih belum mengenal aspal. Tapi sudah ada cara atau teknik khusus untuk pengerasan tanah,” tuturnya. Menurutnya, sejumlah jalan kuno warisan leluhur itu pun masih dimanfaatkan sampai saat ini. ”Seperti Jalan Anyer-Panarukan (di sepanjang pantai utara Jawa), kemungkinan besar saat itu Herman Willem Daendels (Gubernur Hindia-Belanda kala itu) mengikuti pola jalan (kuno) yang sudah ada sebelumnya,” tambah Tommy.
Tak hanya itu, bukti nyata lainnya adalah jalur kuno yang mengelilingi Gunung Penanggungan. Konon, jalan makadam dari tumpukan batu tersebut diyakini sebagai jalur yang dilewati kereta kuda bangsawan Majapahit menuju sejumlah candi hingga Puncak Pawitra. Lantaran bagi masyarakat Hindu-Buddha Gunung Penanggungan merupakan gunung suci. ”Jalur kuno di Gunung Penanggungan itu sangat sederhana. Tapi pendaki yang lewat situ (dipercaya) tidak merasa capek setelah sampai puncak. Kemungkinan besar karena kemiringannya yang relatif landai, walaupun jalurnya mengelilingi gunung,” urainya.
Kini, penggunaan kereta kuda mulai berkurang dan tak semarak dahulu. Di sejumlah daerah warisan budaya leluhur itu justru menjadi angkutan wisata. Bergesernya pemanfaatan angkutan tradisional tersebut disebabkan semakin berkembangnya teknologi transportasi di era modern. ”Delman atau andong masih digunakan di Yogyakarta. Pemakaian kereta kuda ini semakin berkurang sejak awal abad ke-20 masehi. Saat perkembangan motor, mobil, hingga kereta semakin pesat,” tukas Tommy. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah