Secara umum, mobilitas masyarakat era Kerajaan Majapahit belum setinggi era modern ini. Tak lain karena belum teknologi transportasi kala itu belum berkembang atau secanggih saat ini. Praktis, masyarakat saat itu jarang melakukan perjalanan jauh layaknya saat ini. Namun begitu, ada beberapa jenis angkutan darat yang sudah dimanfaatkan masyarakat kala itu. Mulai dari hewan tunggangan layaknya kuda, gajah, lembu, sapi, tandu, pedati maupun kereta kuda.
”Jadi kala itu masih memanfaatkan tenaga hewan atau manusia,” terang Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D. Banyak masyarakat yang memanfaatkan hewan tunggangan untuk mengangkut hasil panen atau barang dagangan. Bahkan, kuda dan gajah menjadi hewan tunggangan pasukan perang Majapahit.
”Beberapa sumber menyebut, selain kuda, Majapahit juga memanfaatkan gajah menjadi tunggangan perang,” ungkap Alumnus Ilmu Sejarah UNAIR ini. Menurutnya, pedati dan kereta kuda memiliki kesamaan. Yakni berfungsi mengangkut barang maupun manusia. ”Kalau pedati cenderung untuk mengangkut barang dan ditarik lembu atau sapi. Untuk tandu, khusus bangsawan, dan tandu ini dipikul oleh pengawal kerajaan,” tambahnya.
Kereta kuda, lanjut Tommy, bahkan sudah menjadi moda transportasi di era kerajaan sebelum Majapahit berdiri. Tak pelak, kerata kuda menjadi moda transportasi utama di era Majapahit. Ada dua jenis bagian badan kereta, yakni terbuka dan tertutup. Badan kereta berbahan kombinasi kayu dan logam dirakit sedemikian rupa dan dilengkapi roda di sisi kanan dan kiri. Sehingga mampu mengangkut beban berbobot ratusan kilogram untuk perjalanan jauh.
Tommy menerangkan, penggunaan kereta kuda era Majapahit digambarkan cukup jelas dalam kitab Negarakertagama. Bersama rombongan kerajaan, Hayam Wuruk, Raja keempat Majapahit, mengendarai kereta kuda dalam perjalanannya menuju wilayah timur Majapahit. Di mana kereta kuda sang raja tampak mewah dengan hiasan buah maja dan sejumlah hiasan lainnya. Pun begitu dengan kereta sang patih Gajah Mada yang dihiasi tanda bunga pulutan putih dan kereta keluarga raja yang dihiasi dengan handiwa hingga sadaha kusuma.
”Penggunaan kereta kuda ini juga sebagai pembeda strata sosial di masa itu. Sangat jarang masyarakat biasa memiliki kereta kuda. Mungkin yang punya saat itu hanya saudagar kaya yang kereta itu digun akan untuk mengangkut barang dagangan dari pasar ke pelabuhan,” tandasnya. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah