Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Meriam Cetbang Majapahit, Sisa Serbuan Pasukan Mongol ke Tanah Jawa

Fendy Hermansyah • Sabtu, 1 April 2023 | 13:47 WIB
KUNO: Senjata yang disinyalir meriam cetbang tersimpan di Metropolitan Museum of Art di New York, Amerika Serikat. Bagian tengah meriam terdapat simbol Surya Majapahit. (dok Wikipedia for JPRM)
KUNO: Senjata yang disinyalir meriam cetbang tersimpan di Metropolitan Museum of Art di New York, Amerika Serikat. Bagian tengah meriam terdapat simbol Surya Majapahit. (dok Wikipedia for JPRM)
SEBAGAI salah satu kerajaan terbesar di masanya, Majapahit memiliki pasukan bersenjata lengkap. Bahkan, saat itu bala tentara Wilwatikta sudah dilengkapi meriam yang biasa disebut cetbang. Dalam sejarahnya, meriam cetbang merupakan senjata sisa serbuan pasukan Mongol yang berhasil dipukul mundur oleh pasukan Raden Wijaya.

Untuk namanya, hingga kini masih belum ada catatan sejarah yang menyebutkan arti kata cetbang itu sendiri. Justru, nama meriam cetbang diyakini sudah sudah populer sebagai sebutan senjata jarak jauh tersebut. Namun, senjata bubuk mesiu dalam naskah-naskah Jawa kuno disebut bedil, bedil besar, brahmasara atau brahmaastra, mimis (peluru kecil), hingga agnisara atau agniastra. ”Belum diketahui pasti arti cetbang itu sendiri. Tapi, saat itu memang sudah dikenal dengan nama meriam cetbang,” ungkap Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq.

Dituturkannya, meriam cetbang bukan senjata murni buatan masyarakat Majapahit. Melainkan senjata sisa serbuan pasukan Dinasti Yuan ke pulau Jawa pada tahun 1293 masehi. ”Jadi meriam yang ditinggalkan pasukan Mongol itu diambil oleh Majapahit, lalu dimodifikasi,” sebutnya. Kedatangan puluhan ribu pasukan Mongol yang dilengkapi berbagai jenis senjata itu bukan tanpa tujuan.

Invasi pasukan kaisar Kubilai Khan melalui jalur laut tersebut merupakan reaksi atas tindakan Raja Kertanegara, Kerajaan Singasari. Yang berani melukai utusan Dinasti Yuan lantaran menolak membayar upeti pada kerajaan asal Tiongkok tersebut. ”Ketika Mongol menyerang Singasari, mereka mengerahkan kekuatan besar dengan peranti (senjata) yang modern, termasuk membawa meriam Cina (pao) itu,” terang Yuhan, sapaan akrabnya.

Di tengah perjalanannya, terjadi pemberontakan di wilayah kekuasaan Singasari yang dilakukan Jayakatwang, Kerajaan Kadiri (Kediri). Raja Kertanegara terbunuh dan Singasari dikuasai oleh Kediri. Ekspedisi Dinasti Yuan yang tiba di tanah Jawa lantas berupaya mengambil alih kekuasan Kediri sebagai kerajaan penerus Singasari.

Berhasil membuat Kediri menyerah, pasukan Mongol tiba-tiba diserang oleh Majapahit yang merupakan bekas sekutunya. Dipimpin Raden Wijaya, pasukan Majapahit berhasil memukul mundur bala tentara Dinasti Yuan sehingga gagal menguasai tanah Jawa. ”Dari situ, sejumlah meriam yang ditinggalkan pasukan Mongol diambil oleh Majapahit,” ucapnya.

Oleh para empu, sejumlah meriam tersebut lantas dimodifikasi, diadaptasi dan diproduksi sesuai kebutuhan kala itu. Berbahan perunggu maupun besi, meriam cetbang dibuat melalui proses metalurgi. Berbagai bahan dilebur api dengan suhu di atas 1.500 derajat celsius yang lantas dicetak. Meriam cetbang Majapahit pun memiliki ukuran yang beragam. Rata-rata antara 1-3 meter. Mengandalkan daya ledak mesiu, meriam isian depan ini meledakkan peluru bulat besar maupun proyektil kecil.

”Dari segi bahan, kemungkinan logam yang dipakai empu Jawa lebih baik dari Tiongkok. Ukurannya pun lebih kecil dari aslinya (meriam Mongol), pemakaiannya bisa seperti bazoka (meriam tangan),” terangnya. Kala itu, meriam cetbang tak hanya digunakan untuk pasukan darat melainkan juga armada laut Majapahit. ”Meriam cetbang untuk armada laut ini ukurannya lebih besar. Jadi saat itu sudah dimodifikasi menyesuaikan medan di wilayah Majapahit,” tandas Yuhan. (vad/ron)


Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #cetbang #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #kerajaan majapahit #mongol #Kota Mojokerto #Tanah Jawa #mojokerto #cetbang majapahit #soekarno #trowulan #onde-onde