Artefak keramik temuan para arkeolog terbagi menjadi tiga macam. Yakni, earthenware, stoneware, dan porcelain. Ada sejumlah perbedaan di antara ketiganya. Keramik earthenware berbahan dasar tanah liat merah yang dibakar dengan suhu 350 hingga 1.000 derajat celsius.
Stoneware berbahan tanah liat putih atau kaolin bersifat silika yang dibentuk dengan suhu bakar 1.150 hingga 1.300 derajat celsius. Sedangkan porselen, juga menggunakan bahan tanah liat putih dan mineral feldspar yang dibakar dengan suhu 1.250 hingga 1.350 derajat celsius.
’’Suhu pembakaran dan bahan baku ini yang membuat beda. Jenis earthenware bersifat porus dan menyerap air karena tidak berglasir.Ini seperti gerabah. Dua jenis lainnya justru punya sifat sebaliknya,’’ ungkap Pengelola PIM Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Yanti Muda.
Artefak ketiga jenis keramik tersebut berupa berbagai macam benda ataupun perlengkapan rumah tangga. Mulai dari piring, mangkuk, periuk, sendok, guci, vas, ubin, tempayan, hingga jambangan. Lebih dari 500 benda cagar budaya tersebut ditemukan tersebar di Trowulan dan Jawa Timur. Yang kini menjadi koleksi PIM BPK Wilayah XI Jatim hasil penelitian Henry Maclaine Pont pada periode tahun 1924-1980.
’’Untuk jumlah total (kersmik kuno) mungkin sekitar 1.000. Mayoritas ditemukan sudah tidak utuh. Tapi pola dan bentuknya masih jelas,’’ beber Yanti. Dijelaskannya, keramik kuno tersebut teridentifikasi bukan buatan Majapahit. Melainkan barang impor dari Cina/Tiongkok, Vietnam, Thailand, Myanmar, Kamboja, hingga Timur Tengah. Sejak abad ke 13 hingga 15 Masehi.
Pasalnya, kala itu Wilwatikta masih belum bisa membuat keramik. Khususnya, jenis porselen. Peradaban Majapahit baru bisa mengolah tanah liat merah untuk terakota atau keramik sekelas earthenware. ’’Kemungkinan besar masyarakat kala itu belum bisa mengakses sumber daya alam yang ada sebagai bahannya. Termasuk proses pembuatannya dengan suhu pembakaran tersebut,’’ paparnya.
Benda keramik berbagai ukuran tersebut bukan sekadar barang dagangan. Melainkan juga sebagai buah tangan dari para saudagar atau pemimpin masing-masing kerjaan pada petinggi Majapahit. Artinya, kala itu keramik jadi barang spesial lantaran menjadi simbol diplomasi dagang dan politik era Majapahit. ’’Memang ada temuan keramik piring berdiameter sekitar 40 cm, biasanya itu dibuat pajangan. Jadi mungkin sekali keramik ini sebagai hadiah buat petinggi Majapahit,’’ tandas Yanti. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah