Pemerhati sejarah Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan Sipon Watudakon telah genap seabad sejak selesai dibangun 1923 silam. Menurutnya, butuh waktu 10 tahun untuk membuat bangunan persilangan hingga berhasil mengalirkan Sungai Watudakon dari bawah Sungai Brantas. ”Pengerjaan Sipon Watudakon memang butuh waktu panjang karena harus membangun terowongan di bawah Sungai Brantas,” terangnya.
Pembangunan Sipon Watudakon dimulai pada tahun 1913 dengan desain teknis yang awalnya dibuat oleh dinas pengairan pemerintah kolonial. Derasnya aliran Sungai Brantas juga menjadi tantangan berat pekerjaan proyek infrastruktur tersebut.
Sehingga, aliran Sungai Brantas dilakukan pengalihan selama proses pembangunan Sipon Watudakon. Besarnya kebutuhan biaya juga membuat pekerjaan tak bisa direalisasikan dengan waktu yang singkat.
Namun, pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, seluruh kegiatan pembangunan Sipon Watudakon tidak ditanggung oleh pemerintah kolonial. Melainkan dibiayai oleh suiker fabriek bond atau asosiasi pabrik gula. ”Pabrik pabrik gula baik di Mojokerto dan di Jombang patungan untuk membangun Sipon Watudakon,” bebernya.
Menurutnya, keputusan untuk membangun Sipon Watudakon karena wilayah di Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko hingga Kelurahan Pulorejo, Kota Mojokerto lebih rendah dari permukaan air Sungai Brantas. Karenanya, untuk bisa mengalirkan air dari Sungai Watudakon harus dibuat persimpangan yang menembus dari bawah Sungai Brantas. ”Sehingga tidak bisa dilakukan dengan membobol langsung tanggul Sungai Brantas, karena justru akan menimbulkan banjir,” paparnya.
Proses pembangunan berlangsung 10 tahun. Bangunan yang juga dikenal dengan Dam Sipon itu akhirnya bisa terselesaikan di tahun 1923. Dengan terbangunnya sipon tersebut, maka aliran air Sungai Watudakon bisa dialirkan menuju Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg yang notabene memiliki dataran lebih rendah. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah