Menurut sejumlah sumber, dunia anak-anak kala itu tak jauh berbeda dengan saat ini. Lantaran usianya masih dini, bermain merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari anak-anak di era Majapahit. ”Konsepnya sama seperti sekarang ini. Mereka bermain di sela-sela waktu belajarnya,” ujar Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.
Terlebih, bagi anak-anak pada masa Majapahit, bermain merupakan bagian dari dunia pendidikan. Sehingga, aktivitas bermain anak relatif sudah masif sebagaimana saat ini. ”Karena bermain juga bagian dari pendidikan. Namun, apakah mainan saat itu sudah diproduksi massal, itu perlu kajian lebih lanjut,” bebernya.
Menurutnya, dunia pendidikan anak kala itu sudah relatif kompleks. Seperti saat ini, pendidikan terbagi menjadi pendidikan formal dan non formal. Bahkan, saat itu pendidikan sudah dibagi berdasarkan kelompok usia. Yakni, mulai usia 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun, dan 16 tahun. ”Jadi sudah ada pembagian kelompok usia saat itu. Para guru punya cara mendidik yang berbeda dari setiap kelompok usianya,” beber Tommy.
Dunia pendidikan era Majapahit, juga sudah menerapkan sistem layaknya pondok pesantren. Para murid mendapat pembelajaran formal dari guru sekaligus pengetahuan berdasarkan pengalaman dengan tinggal di rumah guru mereka.
”Memang Di dalam kitab Sarasamuccaya disebutkan, selain mendapat pelajaran secara formal dari guru kulawesi dengan tinggal di rumah (guru), mereka juga belajar dari pengalaman. Ada istilah lain bagi penyebutan guru tersebut, yakni guru hawan yang mendidik pengetahuan dari pengalaman,” urainya. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah