Busana masyarakat era Majapahit ditopang dengan produksi kain tenun relatif masif. Bahkan sejumlah sumber menyebut kain jadi komoditas industri atau barang yang diproduksi masal kala itu. Temuan artefak kumparan jadi penguatnya. Kumparan merupakan pemberat alat tenun sederhana. Dengan begitu, kebutuhan akan pakaian bagi sejumlah lapisan masyarakat bisa dipenuhi. ’’Pada masa itu, semakin lengkap pakaian, menandakan semakin tinggi kastanya,’’ ungkap Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.
Kajian peneliti kepurbakalaan dan arkeolog mendapati sejumlah relief candi yang menggambarkan busana di era Majapahit. Kala itu, busana merupakan simbol kasta pemakainya. Sehingga perbedaan kasta masyarakat di era Hindu-Budha bisa dengan mudah dinilai dari pakaian yang dikenakan. Mulai dari kasta bangsawan, prajurit, abdi dalem, pertapa/brahmana, hingga rakyat jelata. Kaum bangsawan pria dilengkapi dengan aksesoris mahkota, anting, kalung, kelat bahu, tali kasta, hingga gelang tangan dan kaki. Tak jauh berbeda, bangsawan wanita memakai kemben yang menutupi dari dada hingga mata kaki, selendang, dan rambut yang ditata layaknya rumah siput.
Bagi kalangan abdi dalem, pakaian yang dikenakan sudah tak sekompleks kaum bangsawan. Mengenakan rompi kain bagi pria dan kemben bagi perempuan. Namun, mereka memakai topi tekes sebagai hiasan di bagian kepala. Bisa dibilang, topi tekes merupakan blangkon yang sederhana. ’’Bisa dibilang topi tekes ini busana khas era Majapahit. Di era sebelumnya mungkin tidak ada atau belum populer,’’ sebutnya.
Pakaian yang dikenakan rakyat jelata kala itu sangat sederhana. Tubuh kaum hawa ditutupi kemben yang dipakai dari dada hingga mata kaki dengan memakai hiasan anting serta gelang sederhana. Sedangkan kaum adam memakai kain penutup dari perut hingga paha yang dilengkapi dengan ikat pinggang. ’’Untuk pria saat itu bahkan ada yang pakai cawat. Dan masih banyak juga yang bertelanjang dada, baik pira maupun wanita,’’ ucap Tommy.
Penyebutan busana yang dikenakan kala itu pun beragam. Mengacu pada Prasasti Kudadu (1216 Saka/1294 M), disebut sebgai wdihan dan hlai. Lain halnya dengan yang tercantum di berbagai naskah seperti Nagarakretagama, Arjunawijaya, maupun Sutasoma. Busana saat itu disebut bebed dan tapih, kampuh dan wastra, hingga sinjang dan dodot. Soal tren busana yang berlaku saat itu, lanjut Tommy, disinyalir tak jauh berbeda dengan yang berlaku di era sebelumnya. Sebab, perkembangan mode pakaian kala itu tak sepesat era modern saat ini. ’’Tren busana saat itu kemungkinan besar masih mengikuti era sebelumnya. Karena masa sebelum Majapahit sudah mengenal busana dan memproduksi kain juga. Hanya ada sedikit perbedaan saja,’’ tandasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah