KELENTENG Tri Darma Hok Sian Kiong di persimpangan Jalan Residen Pamuji dan Jalan Panglima Sudirman, Kota Mojokerto, memiliki sejarah panjang. Didirikan tahun 1823, dengan akta notaris tertanggal 23 Desember 1823 di masa penjajahan kolonial Belanda, kelenteng ini dulunya merupakan sebuah gudang milik Oei Kiem Hoa, di Sentanan Kidul, saat ini menjadi Jalan Kapten Piere Tendean.
Lokasi kelenteng berpindah ke Jalan Panglima Sudirman Nomor 1, di tahun 1874 berkat jasa Letnan Ong An Thay, Oei Kiem Hoa, dan Letnan Tjoa Sien Kie.
Mengutip dari situs resmi perpustakaan digital UINSA, karya tulis milik Siti Miftahul Husnah, meneliti sejarah berdirinya kelenteng Hok Sian Kiong, nama itu diambil dari kata hokki, yang berarti orang yang jaya dan makmur, hidupnya sempurna, utuh, dan tidak ada yang cacat.
Sian yang berarti orang yang baik, rezekinya baik, hidupnya sentosa. Sedangkan kata Kiong memiliki makna istana atau tempat ibadah yang indah dan megah. Sehingga masyarakat Tionghoa beranggapan umat yang sering beribadah di kelenteng ini hidupnya akan mengalami kemajuan dalam hal materi dan kebahagiaan.
Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur dalam situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyebutkan, pembangunan Kelenteng Hok Sian Kiong berlangsung dari masa penjajahan kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang, meski sempat mengalami penurunan pembangunan di masa Jepang, karena kondisi politik yang pelik saat itu.
Berkat usaha Letnan Ong An Thay, tahun 1906 dilakukan pembangunan gedung baru yang saat ini dipakai sebagai bagunan induk altar Makco Thian Shang Sheng Mu, menggantikan bangunan kelenteng, yang awalnya terletak di sisi selatan dan kini menjadi ruang altar Kwan Im Hud Co.
Tahun 1930, perubahan dan perbaikan yang mencakup sayap kiri dan kanan bangunan induk, terus dilakukan atas usaha kongsi Tan Oen Liang dengan Liem Toen Thay sebagai arsitek. Kelenteng Hok Sian Kiong lantas dijaga Bio Kong, The Ting Kiauw dengan tugas keseharian sebagai penata laksana kegiatan peribadatan untuk diri sendiri dan kepentingan umat, setelah pembangunan selesai.
Sebelum agama Konghucu diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan sebelum bangunan kelenteng saat ini didirikan, hanya terdapat satu patung Dewi Mak Co, yang dipercaya umat Konghucu sebagai dewi penolong. Setelah memasuki masa kemerdekaan tahun 1945, mulai ada kebebasan untuk beribadah termasuk di Kelenteng Hok Sian Kiong, yang berarti Kelenteng ”perikebajikan” ini.
Sekitar tahun 1955 bangunan sebelah barat kelenteng digunakan sebagai Vihara Metta Shradda. Bangunan di atas lahan seluas sekitar 5.500 meter persegi ini memiliki arsitektur khas China. Dalam pembangunannya, kelenteng ini menggunakan bambu yang diruncingkan alih-alih memakai paku logam.
Pada Jurnal Dimensi Interior volume 6, ditulis Sriti Mayang Sari dan dan Raymond Soelistio Pramono, disebutkan, bahwa di bagian atap gerbang ditempatkan sepasang naga atau liong yang terbuat dari pecahan porselin, dengan posisi berhadapan memperebutkan bola semesta menyala yang menjadi perlambangan cu atau matahari.
Sementara di atap bangunan utama diletakkan sepasang naga mengapit houw lou, wadah air atau arak yang terbuat dari labu kering, yang tak dapat dipisahkan dari bekal para dewa. Sehingga dipercaya memiliki kekuatan gaib untuk menangkal hawa jahat dan menjaga keseimbangan Hong Shui.
Dua patung menyerupai singa yang biasa disebut Kie Lin diletakkan di pelataran dan teras bangunan utama. Masyarakat Tionghoa percaya, Kie Lin merupakan hewan penjaga suatu kelenteng. Tepat di tengah pintu diletakkan Hio Lo, mangkuk emas yang pertama kali dituju pengunjung kelenteng untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sisi kanan dan kirinya terdapat dua patung naga dan dua pilar berukiran naga yang melambangkan semua saudara di empat penjuru samudera.
Tiga buah pintu diletakkan di depan, sementara dua pintu lain di sisi kanan dan kiri bagian dalam, di atasnya terpampang gambar dewa yang melambangkan dewa penjaga kelenteng dari depan. Dindingnya dihias lukisan cerita rakyat Tionghoa, di ruangan yang sama, sebuah meja altar dua susun tampak megah dan sakral dengan patung Dewi Mak Co dan dua pengikutnya.
Di belakang terdapat ruang sembahyang bagi umat Tri Dharma, dengan tiga patung dewa di altarnya, patung agama Tao, Patung Nabi Khonghucu, dan patung Budha. (fia ayu febriyanti/sumber internet/ris)
Editor : Fendy Hermansyah