Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D menerangkan, sejumlah sumber menyebut uang koin kepeng sudah menjadi alat tukar dalam aktivitas perdagangan sebelum Kerajaan Majapahit berdiri. Khususnya, pada masa Raja Kertanegara berkuasa di Singasari. Seiring masifnya perdagangan antara pribumi dan saudagar Tiongkok kala itu, membuat aliran uang koin kepeng masuk ke Jawa dengan derasnya.
’’Karena banyaknya transaksi perdagangan saat itu seiring dengan meningkatnya kebutuhan uang kepeng sebagai alat tukar. Jadi uang kepeng terus didatangkan atau keluar dari Tiongkok,’’ ungkapnya.
Hal tersebut berlangsung cukup lama. Sehingga, aliran uang kepeng keluar Tiongkok disebut memicu ketidakstabilan moneter Dinasti Yuan. Fenomena tersebut langsung ditangkap kekaisaran Dinasti Yuan. Kubilai Khan, Kaisar Dinasti Yuan yang berkuasa saat itu, lantas mengirim utusan untuk menemui Raja Kertanegara dengan maksud membereskan persoalan tersebut.
’’Karena banyaknya uang keluar, Kubilai Khan ingin memutus arus peredaran uang kepeng ke Jawa karena dinilai membuat kondisi ekonomi Tiongkok menjadi tidak stabil,’’ ucapnya. Namun, utusan Tiongkok tersebut justru tidak diterima dengan baik di Singasari. Terlebih, mereka menyampaikan pesan Kubilai Khan yang meminta Singasari agar tunduk di bawah kekaisaran Tiongkok-Mongol Dinasti Yuan. Tak hanya itu, Dinasti Yuan meminta agar Singasari rutin menyetor upeti.
’’Kedatangan utusan Kubilai Khan itu agar Dinasti Yuan jadi patron Kerajaan Singasari. Raja Kertanegara yang tidak terima langsung memotong kuping utusan tersebut dan mengusirnya kembali ke Tiongkok,’’ bebernya. Melihat utusannya kembali ke Tiongkok dalam kondisi sedemikian rupa, Kubilai Khan memutuskan berperang dengan Singasari. Sekitar tahun 1292, lebih dari 20.000 prajurit Tiongkok diterjunkan ke tanah Jawa menggunakan armada laut. Namun, sebelum perang serbuan Dinasti Yuan pecah di tanah Jawa, Singasari didera pemberontakan.
Jayakatwang, Adipati Kediri, negara vasal Singasari, berhasil meruntuhkan kepemimpinan Kertanegara. ’’Sebelum pasukan Mongol tiba, Jayakatwang berhasil membunuh Kertanegara dan mengambil kekuasaan Singasari. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, diampuni dan membuka desa di Tarik (Sidoarjo) yang jadi cikal bakal Majapahit,’’ papar Tommy.
Setibanya pasukan Dinasti Yuan di Tanah Jawa, Raden Wijaya memanfaatkan momen tersebut untuk menyerang Jayakatwang. Hingga akhirnya Raden Wijaya bersama pasukan Tiongkok berhasil membalaskan dendam dan meruntuhkan kekuasaan Jayakatwang. ’’Setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya mengkhianati pasukan Tiongkok tersebut dengan menyerang balik. Sampai akhirnya mereka diusir kembali ke Tiongkok oleh pasukan Majapahit,’’ katanya.
Secara politis, operasi pasukan perang Dinasti Yuan tersebut dinilai gagal. Apalagi, Kertanegara terlebih dahulu dibunuh oleh Jayakatwang. ’’Walaupun begitu, uang kepeng terus digunakan sampai Majapahit runtuh,’’ tukas Tommy. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah