Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, pada masa awal pembentukannya, NU tak membutuhkan waktu lama untuk berkembang. Mengingat, organisasi yang diprakarsai Kiai Hasyim Asy’ari ini menggunakan jaringan pesantren untuk mendirikan pengurus cabang. ”Setelah terbentuk, NU memutuskan untuk mendirikan cabang di berbagai daerah,” terangnya.
Dengan letak yang tak jauh dari kantor pusat NU di Surabaya, Mojokerto menjadi salah satu daerah yang masuk dalam prioritas pembentukan cabang organisasi. Di samping itu, banyak jejaring kiai dan santri di Mojokerto yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, yang diasuh Kiai Hasyim Asy’ari.
Berdasarkan kedekatan geografis dan sosial keagamaan tersebut, maka kiai-kiai pendiri NU berinisiatif untuk mendirikan cabang di Mojokerto. Rencana pembentukan PCNU itu juga termuat dalam Swara Nahdlatoel Oelama edisi nomor 7 tahun kedua yang terbit pada bulan Rajab 1347 Hijriah.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, adalah Kiai Wahab Chasbullah yang merupakan salah satu pendiri NU menjadi inisiator pembentukan cabang organisasi di Mojokerto. Didampingi Katib Syuriyah NU Jombang Kiai Bisri Syansuri, Kiai Wahab datang ke Mojokerto pada 18 Dzulhijah 1347 Hijriyah atau 28 Mei 1929 untuk mematangkan pembantukan PCNU. ”Mbah Wahab dan Mbah Bisri mendatangi musyawarah yang diikuti para kiai dan tokoh masyarakat Mojokerto,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut membahas tentang pembentukan NU Mojokerto. Pentingnya ikatan antar-umat Islam menjadi salah satu pertimbangan dibentuknya pengurus cabang di tengah gerusan aliran tertentu dan dikte agama yang dibawa penjajah kolonial kala itu.
Anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menambahkan, musyawarah yang dikabarkan digelar di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto itu pun menghasilkan keputusan bahwa para ulama dan tokoh masyarakat Mojokerto bergabung NU. ”Malam itu juga, para kiai dan semua peserta musyawarah sepakat untuk mendirikan cabang NU di Mojokerto,” ulasnya.
Di sisi lain, imbuh Yuhan, ada pendapat yang juga menyebut bahwa musyawarah yang dihadiri Kiai Wahab dan Kiai Bisri merupakan pembentukan NU cabang Mojokerto secara formal. Sebab, keberadaan organisasi berlambang bola dunia ini secara de facto telah eksis sejak 1928 atau dua tahun setelah hari lahir (harlah) NU.
Mengingat, di tahun 1928 juga telah terbentuk struktur kepengurusan. Mulai dari Rais Syuriyah, Tanfidziyah, hingga bendahara. Sehingga, kedatangan Pengurus Besar (PB) NU yang diwakili Kiai Wahab dan Kiai Bisri dimungkinkan untuk melakukan verifikasi faktual atas keberadaan cabang NU Mojokerto.
Mengingat, status NU Mojokerto di tahun 1928 masih sebagai cabang persiapan. Baru di 1929 pengurusan NU Mojokerto telah mengantongi status resmi sebagai pengurus cabang. Itu ditandai dengan mendapatkan tiket untuk menghadiri kongres akbar atau Muktamar ke-4 NU di Semarang pada tahun yang sama. ”Keberadaan organisasi NU di Mojokerto kemungkinan besar memang telah ada sejak tahun 1928, tetapi secara formal ditetapkan pada tahun 1929,” tandas Yuhan. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah