Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Perdagangan Era Majapahit, Keberadaan Pasar Tersebar di Berbagai Penjuru

Fendy Hermansyah • Sabtu, 28 Januari 2023 | 15:20 WIB
SISA PERADABAN: Relief Candi Tegowangi dan Penataran yang menggambarkan adanya aktivitas perdagangan pada masa Kerajaan Majapahit sekitar 700 tahun silam.
SISA PERADABAN: Relief Candi Tegowangi dan Penataran yang menggambarkan adanya aktivitas perdagangan pada masa Kerajaan Majapahit sekitar 700 tahun silam.
AKTIVITAS perdagangan yang kian berkembang dan masif membutuhkan tempat untuk praktik jual beli. Pada era Majapahit, keberadaan pasar tersebar hampir di sejumlah penjuru wilayah. Mulai dari tepi jalan, persimpangan jalan, hingga di depan keraton kerajaan. Keberadaan pasar sebagai wadah praktik jual beli memudahkan masyarakat kala itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Adanya aktivitas jual beli di pasar pada masa Majapahit tercantum dalam berbagai sumber. Mulai dari sejumlah prasasti, relief candi, hingga serat pararaton dan kitab negarakertagama. Timbulnya pasar pada saat itu tak lepas dari kebutuhan ekonomi masyarakat kala itu. Yang berlangsung seusuai prinsip ekonomi yang berlaku. Sehingga, keberadaan pasar kala itu terbentuk dengan sendirinya dan dibangun dengan sengaja.

’’Dari berbagai sumber, masyarakat saat itu menyebut pasar dengan istilah pkan atau pken yang berasal dari bahasa Jawa kuno,’’ sebut Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D. Keberadaan pasar kala itu, lanjut Tommy, sudah mempertimbangkan lokasi-lokasi yang strategis untuk lalu lintas perdagangan. Sehingga pasar bisa didapati di tepi jalan besar, persimpangan, hingga bandar atau pelabuhan sungai dan laut.

’’Jadi pasar tidak hanya di pusat kota tetapi juga ada di desa-desa. Padatnya penduduk jadi salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya pasar kala itu,’’ ucapnya. Tak hanya itu, dalam Kitab Negarakertagama menyebutkan jika terdapat pasar di utara keraton kerajaan yang disebut dengan peken agung.

Letak pasar tersebut tak jauh dari pemukiman padat penduduk yang juga tak jauh dari pusat kerajaan. ’’Pasar besar tersebut digunakan untuk (memenuhi) kebutuhan istana dan keluarganya. Demikian juga untuk masyarakat yang tinggal di pemukiman sekitar istana,’’ sebutnya.

Bisa dibilang kondisi pasar kala itu tak jauh berbeda dengan pasar tradisional saat ini. Yakni dipadati pembeli dan penjual dengan masing-masing komoditas yang diperdagangkan. Berbagai sumber menyebut ada sejumlah komoditi yang diperdagangkan kala itu. Terutama komoditas pertanian layaknya beras, sirih, mengkudu, pinang, hingga bawang. Kemudian komiditi industri seperti perkakas, pakaian, anyaman, keranjang, maupun arang.

Bahkan, saat itu sudah ada komoditi ekspor-impor dari dan menuju negara asia tenggara hingga arab. Komoditi ekspor berupa hasil pertanian dan barang impor saat itu layaknya kain, keramik hingga jubah. ’’Mayoritas komoditas yang diperdagangkan saat itu hasil pertanian. Karena Majapahit saat itu merupakan kerajaan agraris maritim. Dan saat itu sudah ada jalur perdagangan darat dan air. Salah satunya jalur rempah, di mana rempah saat itu merupakan komiditas unggulan,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #timbangan kuno #Majapahit #bandul kuno #Mojopahit #pasar #Era Majapahit #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde #jejak perdagangan