Masifnya aktivitas perdagangan kala itu diperkuat dengan sejumlah temuan benda cagar budaya. Di antaranya adalah bandul timbangan kuno. Artefak dari batu andesit tersebut membuktikan adanya pemanfaatan teknologi sederhana berupa timbangan. Yang fungsi utamanya untuk menakar bobot sejumlah komoditas yang diperjualbelikan kala itu. Anak timbangan kuno era Majapahit tersebut merupakan temuan peneliti Henry Maclaine Pont pada periode tahun 1924-1980 yang didapati wilayah Trowulan dan Terung (Sidoarjo).
Bentuk dan ukuran bandul timbangan sisa peradaban Majapahit ini sedikit berbeda ketimbang pemberat atau anak timbangan manual maupun mekanik saat ini. Sekitar 19 bandul timbangan kuno koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) bukan terbuat dari besi, melainkan batu andesit. Berat bandul kuno itu pun beragam, rata-rata di kisaran 8-25 kilogram (kg).
’’Temuan yang didapati sejauh ini berat per satu bandul kisaran 8-25 kg. Tapi, tidak menutup kemungkinan masyarakat saat itu memakai bandul dengan berbagai ukuran lainnya, yang lebih kecil ataupun lebih berat lagi,’’ ungkap Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.
Tak hanya bobotnya, ukuran dan bentuk anak timbangan kuno pun beragam. Diameternya sekitar 15-25 cm dengan tinggi 20-30 cm. Ada yang berbentuk menyerupai buah manggis, bagian atas yang mengecil seperti genta, persegi panjang, setengah bulat telur, hingga bulat layaknya buah jeruk. ’’Semua temuan bandul timbangan kuno yang ada terbuat dari batu andesit. Belum ada temuan dari material lain,’’ sebutnya.
Tommy menjelaskan, di bagian atas bandul terdapat satu lubang. Itu digunakan untuk mengaitkan tali pada tuas timbangan. Sedangkan di sisi tuas lainnya, merupakan tempat untuk menakar berat barang atau komoditas dagang. ’’Bentuk timbangan kuno yang digunakan saat itu masih belum diketahui pasti. Masih perlu kajian lebih lanjut. Kemungkinan prinsip timbangannya (manual) hampir sama dengan saat ini, yaitu tuas dengan dua sisi,’’ paparnya.
Pada masa Majapahit, lanjut Tommy, istilah satuan berat yang digunakan bukan kilogram layaknya saat ini. Masyarakat kala itu menggunakan satuan berat yang disebut catu, barang, kulak/sukat, pikul, maupun kati. ’’Berbagai sumber menyebut masyarakat tradisional Jawa mengenal satuan berat yang disebut catu, barang, kulak/sukat, pikul, dan kati. Kemungkinan besar istilah tersebut tidak jauh berbeda seperti yang digunakan masyarakat era Majapahit,’’ tukas Tommy. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah