Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jobong, Buis Beton Era Majapahit

Fendy Hermansyah • Sabtu, 14 Januari 2023 | 12:30 WIB
KUNO: Petugas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim tengah memeriksa temuan Jobong peninggalan era Majapahit di Situs Kumitir, Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo.
KUNO: Petugas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim tengah memeriksa temuan Jobong peninggalan era Majapahit di Situs Kumitir, Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo.
MASYARAKAT Majapahit sudah memanfaatkan sumur sebagai salah satu sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk membangun sumur di kawasan permukiman, masyarakat saat itu biasa memanfaatkan dinding keliling dari terakota yang disebut jobong. Benda kuno dari tanah liat tersebut digunakan sebelum ditemukannya teknologi beton untuk konstruksi modern seperti saat ini.

Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D menerangkan, jobong merupakan dinding keliling penahan tanah di sekitar sumur. Fungsi tersebut tidak jauh beda dengan buis atau bis beton pada sumur di permukiman masyarakat saat ini. Sejauh ini, ada dua jenis jobong yang didapati para arkeolog. Yakni jobong berbentuk lingkaran dan persegi.

”Ada dua jenis jobong, persegi dan lingkaran. Yang lingkaran biasa digunakan di kawasan permukiman atau bangunan profan. Untuk jobong persegi, ini dari tatanan bata, dan biasa dibangun di kompleks bangunan sakral,” ungkapnya.
Secara umum, lanjut Tommy, sumber mata air buatan di era Majapahit tersebut digali manual. Lantas, dinding keliling sumur dipasang jobong. Bahkan jobong dinilai punya fungsi lain, yakni memisahkan tanah di sekeliling sumur agar tidak membuat air menjadi keruh.

Praktis, hal itu membuat masyarakat pada abad ke 13-15 Masehi tersebut bisa memanfaatkan air sumur untuk kebutuhan sehari-sehari secara optimal. ”Adanya sumur di permukiman masyarakat saat itu, untuk memenuhi kebutuhan domestik (rumah tangga). Mulai dari urusan dapur atau memasak, bahkan untuk mandi. Karena kemungkinan besar, saat itu sudah ada masyarakat yang mandi di rumah. Walaupun, masih banyak juga yang mandi di kali,” paparnya.

Pada era kerajaan monarki terbesar dalam sejarah Indonesia tersebut, kedalaman sumur di kawasan permukiman pun bervariatif. Sehingga, jobong yang diproses melaui pembakaran lebih dari 1.000 derajat selcius itu pun penggunaannya bervariasi. ”Penggunaan sumur ini tentu menyesuaikan kedalamannya. Namun, jobong ini biasa ditemukan dalam jumlah ganjil, seperti 5, 7, ataupun 11,” terang Tommy.

Fisiknya, jobong punya ukuran yang beragam. Memiliki ketebalan sekitar 5-10 cm, diamater sekitar 80 cm, maupun tinggi sekitar 60 cm. Sejauh ini, ada sekitar 30 unit jobong kuno yang disimpan di PIM. Itu merupakan temuan hasil penelitian Henry Maclaine Pont pada periode tahun 1924-1980 yang tersebar di seluruh wilayah Trowulan. ”Untuk jobong koleksi PIM, mayoritas di temukan di wilayah Trowulan. Namun, jobong ini juga banyak ditemukan di wilayah lain seperti Kutorejo bahkan Kota Surabaya,” tukasnya. (vad/ron)


Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #mojosains #Mojopahit #sumur jobong #kerajaan majapahit #Kota Mojokerto #jobong #mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde