Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, belum diketahui secara pasti awal kemunculan kerajinan batik di wilayah Mojokerto. Namun, di masa prakemerdekaan, batik telah menjadi salah satu komoditas tekstil yang diperdagangkan di pasar. ”Awalnya bahan baku batik diperoleh dari produksi lokal,” terangnya.
Seiring perkembangannya, bahan baku kemudian diperjualbelikan oleh pedagang dari etnis Tionghoa. Kedatangan kain jenis mori dari produk impor turut mendukung meningkatnya produktivitas batik.
Namun, ungkap dia, kegiatan para perajin batik di Mojokerto yang rata-rata berskala usaha kecil sempat meredup akibat terdampak krisis ekonomi pada 1930-an. Bahkan, geliat batik terhenti saat pendudukan Jepang 1942-1945.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengungkapkan, lesunya batik Mojokerto masih berlangsung hingga pasca proklamasi kemerdekaan. Baru di masa revolusi, kegiatan mencanting bergairah kembali mulai kisaran 1947. ”Saat Belanda kembali menguasai Mojokerto, bahan baku batik kembali tersedia dan dijual di toko milik warga Tionghoa,” tandasnya.
Pada 1948, grafik produksi batik Mojokerto terus mengalami perkembangan cukup signifikan. Sehingga, terbentuk sentra kerajinan batik di sejumlah wilayah yang tersebar di Kota maupun Kabupaten Mojokerto.
Meski skala produksi belum sebesar kota penghasil batik lainnya, namun hasil batik tak hanya dijual di pasar lokal Mojokerto. Tetapi juga mampu menembus pasar di Sidoarjo dan Surabaya.
Yuhan mengatakan, meningkatnya produktivitas batik tidak lepas dengan berdirinya Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) di Jawa Tengah. Dengan terbentuknya koperasi gabungan tersebut, maka perajin yang menjadi anggota bisa mendapatkan bahan baku kain dengan harga murah.
Namun, untuk mendapatkan kain, perajin di Mojokerto harus order melalui koperasi batik di Surabaya atau Gresik yang menjadi anggota GKBI. Hingga akhirnya, sekitar tahun 1960, pengusaha batik asal Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto berinisiasi untuk membentuk koperasi sendiri guna memudahkan memasok bahan baku sekaligus memperluas pasar.
Koperasi yang didirikan di Jalan Brawijaya, Kota Mojokerto ini bernama Batik Browidjojo. Dalam kurun waktu 5 tahun, koperasi berkembang pesar dengan jumlah anggota mencapai 104 perajin batik. ”Keberadaan koperasi batik pertama di Mojokerto itu berhasil melayani kebutuhan para pengrajin batik yang sempat mengalami fase sulit di awal kemerdekaan,” tandas dia. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah