Kunjungan Soekarno ke Stasiun Mojokerto berlangsung pada 16 Januari 1950. Kala itu, tokoh yang juga dikenal dengan Bung Karno ini masih berstatus sebagai pemimpin negara berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, kehadiran Presiden Soekarno di Mojokerto merupakan bagian dari perjalanan menuju Surabaya dengan armada kereta api. Titik keberangkatan menuju Kota Pahlawan itu dimulai dari Kertosono, Kabupaten Nganjuk. ”Presiden Soekarno dijadwalkan berhenti sejenak di Stasiun Mojokerto,” terangnya.
Soekarno menempuh perjalanan bersama rombongan keluarga dan sejumlah pejabat kementerian sepulang dari menjenguk Ida Ayu Nyoman Rai, ibunya di Blitar. Penyambutan meriah pun dilakukan mulai di Stasiun Kertosono dan Stasiun Jombang yang dihadiri banyak massa.
Yuhan, sapaan akrab Ayuhanafiq menuturkan, rencana Soekarno untuk singgah sesaat di Stasiun Mojokerto juga telah menyebar ke telinga masyarakat. Warga tumpah ruah di stasiun yang terletak di Jalan Bhayangkara, Nomor 20, Kota Mojokerto.
Hanya saja, kehadiran masyarakat tidak menyambut Presiden Soekarno dengan sorak sorai suka cita. Tetapi, massa yang meluber hingga ke jalan raya saat itu ingin menyampaikan aspirasi politik dengan melakukan unjuk rasa. ”Rakyat Mojokerto menyampaikan tuntutan lewat tulisan di spanduk dan pamflet yang disiapkan untuk menyambut Presiden Soekarno,” urainya.
Setiba di Stasiun Mojokerto, Bung Karno mendapat kabar dari salah satu pejabat Pemkab Mojokerto terkait adanya demonstrasi masyarakat. Tokoh yang masa kecilnya pernah tinggal dan bersekolah di Kota Mojokerto ini juga mendapatkan secarik kertas yang berisi sejumlah tuntutan.
Meski mendapat sambutan unjuk rasa, Soekarno memutuskan untuk turun dari gerbong dan menemui massa. Di Stasiun Mojokerto tersebut, sosok dengan nama lahir Koesno ini menyampaikan pidatonya yang menegaskan telah menampung seluruh aspirasi dari rakyat Mojokerto.
Orasi yang dikobarkan Bung Karno akhirnya mampu meredam tensi para pengunjuk rasa. Yuhan mengatakan, tuntutan yang disampaikan massa kepada Presiden Soekarno saat itu adalah terkait Resolusi Rakyat Mojokerto.
Di mana, salah satu poin tuntutannya adalah membubarkan Negara Djawa Timur (NDT) yang notabene merupakan wilayah bentukan dari kolonial Belanda. Karena itu, dalam resolusi rakyat tersebut juga menyatakan keinginan wilayah Mojokerto untuk lepas dari NDT dan bergabung dengan RIS. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah