Bisa dibilang, infrastuktur tempat bersandarnya perahu dan kapal tersebut dibangun tersebar dari wilayah hulu hingga hilir. Sebab, pelabuhan dibangun hingga ke aliran sungai atau kanal sekitar pusat kerajaan. Bahkan, ada beberapa pelabuhan yang disebut sebagai pintu gerbang Kerajaan Majapahit. Yakni, Pelabuhan Canggu (Kecamatan Jetis), Pelabuhan Bubat (Desa Tempuran, Kecamatan Sooko), dan Pelabuhan Terung (Dusun Terung, Kecamatan Krian, Sidoarjo).
’’Jadi, Kerajaan Majapahit begitu memperhatikan transportasi air saat itu. Bahkan, pelabuhan laut pun dibagi menjadi dua berdasarkan fungsinya. Pelabuhan untuk urusan kenegaraan (kerajaan) ada di Tuban, sedangkan (pelabuhan untuk) perdagangan di Gresik dan Surabaya,’’ ungkap Staf Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Didik Hermawan.
Di antara sejumlah pelabuhan, yang paling menonojol adalah Pelabuhan Canggu yang kini sudah berubah menjadi kawasan pemukiman. Pelabuhan Canggu merupakan salah satu pelabuhan populer pada eranya. Selain sebagai pelabuhan dagang, sejumlah sumber menyebut Pelabuhan Canggu juga sebagai salah satu rumah bordil (lokalisasi) kuno hingga pelabuhan bea cukai. Itu karena pelabuhan tak hanya mempertemukan pedagang pribumi. Melainkan juga titik temu pedagang pedagang asing dari Campa, Khmer, Thailand, Burma, Srilangka, maupun India.
Komoditas perdagangannya pun beragam. Mulai dari berbagai jenis hewan ternak, hasil pertanian, hasil laut, kain, rempah, kerajinan, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. ’’Saat itu, hubungan dagang Kerajaan Majapahit dengan wilayah lain cukup kuat. Salah satunya dengan (dinasti) Cina. Tidak jarang, antar kedua kerajaan saling memberi cenderamata ataupun barter untuk urusan dagang atau bilateral,’’ papar Didik.
Hanya saja, lanjut Didik, runtuhnya armada maritim dan transportasi air Majapahit tersebut seiring dengan kehancuran kerajaan. Transportasi air sejak akhir abad ke 15 pun mulai tidak dilirik. ’’Pandangan terkait kelautan dan transportasi air pun semakin bergeser seiring runtuhnya Majapahit. Era Mataram Islam (Kesultanan Demak) transportasi air dan armada laut bukan prioritas,’’ tandasnya.
Selain transportasi air, pada era keemasan Majapahit juga memanfaatkan transportasi darat. Yakni, kereta (kuda), pedati, hingga berbagai jenis hewan tunggangan mulai dari kuda, kerbau, hingga gajah. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah