Kerajaan Majapahit meraih kejayaannya sekitar tahun 1328-1389 Masehi di bawah kepemimpinan Raja Tribuwana Tunggadewi yang diteruskan Hayam Wuruk. Saat itu, wilayah kekuasaan Majapahit terus meluas. Bersama Mahapatih Gajah Mada, wilayah Nusantara yang terdiri dari ribuan gugusan pulai pun dapat dirangkul. Yang saat ini meliputi beberapa negara di Asia Tenggara. Mulai dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Filipina.
Hal itu segaris dengan kian menguatnya transportasi air maupun armada laut Majapahit. Mulai dari perahu tambang, rakit, dayung, hingga kapal layar (Djong, Jong, ataupun Jung). ’’Untuk alat transportasi di wilayah kekuasaan Majapahit yang luas, kapal dan perah sudah digunakan. Bahkan ada sumber menyebut, saat itu kapal Majapahit sudah berlayar sampai Madagaskar,’’ ungkap Staf Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Didik Hermawan.
Adanya transportasi laut tersebut digambarkan dalam berbagai sumber. Mulai dari kitab Negarakertagama, Pararaton, Prasati Canggu (1280 S atau 1358 M), hingga relief Candi Borobudur dan Penataran. Hanya saja, menurut Didik, sumber-sumber kuno tersebut tidak menjelaskan detil. Secara umum, transportasi air dibedakan berdasarkan ukuran. Perahu rakit, perahu dayung, dan perahu tambang, serta kapal kecil, dioperasikan di aliran sungai maupun kanal.
Sedangkan kapal layar besar yang juga dilengkapi kemudi dayung bersandar di pelabuhan atau dermaga laut.
’’Kapal pun dibedakan berdasarkan ukurannya, semakin besar, jumlah tiang layarnya juga semakin banyak. Bahkan jung itu digambarkan bisa memuat bahan makanan (bagi awak kapal) untuk 40 hari di laut tanpa menepi. Hanya ukuran pastinya belum ada sumber (valid) yang menjelaskan. Begitu pun kegunaannya untuk berperang. Bahannya dari kayu, tapi kayu jenis apa masih dalam pengkajian lanjut,’’ bebernya.
Perahu dan kapal kuno era Majapahit dibuat tanpa menggunakan paku. Melainkan kayu-kayunya diikat serta diapasang dengan teknik kuncian. ’’Tanpa paku, jadi diikat dan dengan kuncian itu. Kemungkinan juga memakai perekat juga ya,’’ sebut Didik.
Kapal dan perahu kuno tersebut, lanjut Didik, jadi alat transportasi yang berpengaruh saat itu karena fungsinya. Terlebih, lokasi pusat Kerajaan Majapahit yang dikelilingi sejumlah aliran sungai dan kanal. ’’Jadi perahu atau kapal kecil digunakan untuk melintasi aliran sungai atau kanal. Biasanya, untuk mendistribusikan logistik atau membawa orang dari pelabuhan ke wilayah pusat kerajaan Majapahit,’’ tandasnya. Perahu atau kapal kuno bahkan diyakini sudah digunakan sejak era pra-Majapahit atau sekitar tahun 800 Masehi. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah