Staf Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Didik Hermawan menerangkan, peradaban pada zaman Kerajaan Majapahit saat itu sudah mampu memproduksi kain katun dan sutra. Kain katun dari serat dan benang kapas. Sedangkan sutra dari serat protein alami kepompong larva ulat sutra. ’’Beberapa sumber menyebutkan hasil tenun pada masa itu berupa kain katun dan sutra,’’ ungkapnya.
Hasil kajian gambaran pakaian era Majapahit pada figurin arca terakota kuno yang ditemukan di wilayah Trowulan, busana yang digunakan pada masa itu layaknya pakaian tradisional Jawa. Yakni kemben. Yang secara umum dibagi menjadi dua, pakaian penutup tubuh bagian atas dan bawah. Pada figurin perempuan, digambarkan memakai busana berupa kain yang menutupi bagian dada hingga pinggang dan bagian bawah.
’’Untuk laki-laki digambarkan memakai kain biasa dan pemakaiannya sangat sederhana. Tidak memakai pakaian penutup atas,’’ bebernya. Menurutnya, dari dua jenis kain yang diproduksi saat itu, pemakaiannya menyesuaikan strata sosial. Secara umum, kain katun biasa digunakan bagi kalangan biasa alias rakyat jelata. Sedangkan kain sutra, bagi kalangan bangsawan. ’’Untuk kain sutra biasa dipakai kalangan bangsawan. Bahkan, kain itu juga untuk sesembahan (ritual agama),’’ urainya.
Itu diperkuat temuan prasasti masa Majapahit yang menyebut jenis kain bagi para raja dan pejabat kerajaan. Yakni disebut kain (wastra) Rajayogya dan wdihan. Prasasti yang menyebutkan kain tersebut adalah Prasasti Kudadu (1294 M), Warungahan (1305 M), dan Tuhanaru (1323 M). ’’Ketiga prasasti tersebut peninggalan era Raja Raden Wijaya dan Jayanegera,’’ ucap Didik.
Bahkan, lanjut Didik, selain pakaian dari kain tenun era Majapahit, sejumlah kajian-kajian menunjukkan jika pakaian sudah dikenal sejak masa prasejarah atau 6.000 tahun SM. Bahkan, bahan pakaian saat itu terbuat dari kulit kayu hingga kulit binatang.
’’Tepatnya, masa neolotikum. Pakaian dari kulit kayu biasa digunakan manusia di daerah iklim panas. Dibuat dengan kulit kayu yang dipipihkan dengan dipukul pakai batu dan dikeringkan. Sedangkan manusia prasejarah di daerah dingin, pakai pakaian dari kulit binatang berbulu tebal seperti domba atau harimau,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah