Dari catatan sejarah dalam sejumlah prasasti, menunjukkan beragamnya saluran irigasi yang dibangun di era Majapahit. Yakni, dawuhan, wwtan, tambak, tamang, tamya, talang, weluran, arung, tembuku, hingga subaki. Bahkan, saat itu sudah ada petugas khusus yang mengatur dan mengawasi pengelolaan sumber daya air. ”Ada petugas untuk mengurus irigasi yang disebut hulair, penghulu banu (dalam Prasasti Trailokyapuri) dan Pati tambak (dalam Prasasti Tambak Bogem),” kata Staf Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Unit Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) Didik Hermawan.
Selain tercatat dalam prasasti, hal itu disebutkan dalam kitab atau kakawin negarakertagama. Konon, kebesaran Majapahit di bidang maritim turut disokong oleh stabil sektor agraris kerajaan. Dalam karya Empu Prapanca itu, padi disebut sebagai komoditas utama. Namun juga disebutkan sejumlah komoditas pertanian lainnya yakni semangka, kelapa, dan manggis. ”Pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Majapahit saat itu. Bahkan sebagai tiang utama penyokong kehidupan kerajaan,” ungkapnya.
Hal itu didukung dengan suburnya kondisi alam di wilayah salah satu kerajaan Hindu-Budha tersebut. Dalam setahun, saat itu rakyat Majapahit dapat memanen padi sebanyak dua kali. ”Saat itu sudah ada dua jenis pertanian seperti saat ini. Pertanian basah yang dilakukan di sawah dan pertanian kering seperti di ladang (gaga), kebun (kbuan), dan tanah tegalan (tgal),” paparnya. Alat-alat pertanian saat itu pun tidak jauh berbeda dengan saat ini. Masyarakat era Majapahit menggunakan cangkul, luku, garu untuk mengolah tanah. Memanen padi dengan ani-ani, mengolah hasil panen dengan tampah, lesung, lumpang, maupun alu.
Dalam kitab termasyhur itu, saking menonjolnya sektor pertanian, penguasa Majapahit saat itu menganjurkan seluruh rakyat untuk selalu memperhatikan kesuburan sawah. Berikut pentingnya memelihara jalan dan jembatan serta berbagai jenis tanaman. ”Disebut juga jika Raja Hayam Wuruk dan Wengker memerintahkan rakyatnya untuk membuka hutan di Wotsari, Sagala, Surabhana, Pasuruan,” tandas Didik. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah