Struktur tersebut memiliki ketebalan sekitar tiga lapis bata kuno diatas permukaan tanah. Berpola bujur sangkar, luas struktur yang sebegaian masih intak itu mencapai 17x17 meter. ”Ada indikasi temuan struktur berbentuk Surya Majapahit. Kami masih telusuri denahnya seperti apa” ungkap Ketua Tim Ekskavasi sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim M Ichwan, kemarin.
Hanya saja, struktur yang semestinya memiliki delapan sudut sesuai arah mata angin itu tampak mengalami kerusakan. Meski begitu, menurut Ichwan, kerusakan pada area tersebut tidak begitu masif. ”Kalau Surya Majapahit seperti mata angin ya. Untuk area ini memang belum sepenuhnya kami tampakkan. Namun, di bagian utara, karena dulunya ada aktivitas pemanfaatan tanah, ada beberapa yang hilang,” bebernya.
Menurutnya, struktur sekitar cungkup tersebut masih tampak jelas. Beberapa sudut struktur khas lambang Surya Majapahit relatif tampak jelas. ”Yang sudah kelihatan di sisi barat, timur, dan juga di selatan. Utara sudah hampir hilang, ini masih kami cari apakah masih ada sisanya atau seperti apa,” sebutnya.
Tepat berada di bagian tengah situs berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi, struktur yang fungsinya masih misterius itu tampak mengelilingi sejumlah struktur lainnya. Yakni sejumlah umpak bata dan struktur dinding dengan tebal dan lebar sekitar 1 meter yang mengerucut ke arah barat. ”Di dalam area (struktur berbentuk Surya Majapahit) itu ada semacam umpak dari bata. Beberapa masih ada, sebagaian sudah hilang,” kata Ichwan.
Disinggung soal fungsi dan bentuk asal susunan bata kuno yang dikelilingi struktur Surya Majapahit itu pihaknya belum bisa bicara banyak. Sebab, pihaknya masih perlu melakukan kajian lebih lanjut. ”Kami masih cari referensinya. Namun, di area itu banyak umpak bata berukuran 1x1 meter dengan interval 1,80 dan ada polanya. Yang saat ini masih ada yang intak dan ada yang rusak. Dan umpak-umpak ini asli ada di situ,” tandas Ichwan. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah