Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenang Patriotisme Kiai Nawawi, Syuhada yang Gugur di Medan Perjuangan

Fendy Hermansyah • Kamis, 17 November 2022 | 13:12 WIB
Photo
Photo
HARI Pahlawan 10 yang diperingati tiap 10 November menjadi momentum untuk mengenang jasa para pejuang. Di Mojokerto, Kiai Nawawi menjadi sosok yang patut menjadi teladan. Nama syuhada yang gugur di medan perang ini terabadikan atas kepatriotannya dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, tokoh bernama lengkap Muhammad Nawawi ini menjadi sosok yang dihormati. Selain sebagai ulama, keberanian sang kiai ini juga terkenang hingga akhir hayatnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, sebelum gugur, Kiai Nawawi memimpin pasukan Hizbullah ke garis depan pertempuran di Sukodono, Sidoarjo pada 22 Agustus 1946. Pasalnya, benteng pertahanan di kota delta itu sebagian telah diduduki musuh. ”Secara rombongan, pasukan hizbullah Mojokerto menempuh perjalanan dengan berjalan kaki,” terangnya.

PENANDA: Ruas Jalan KH Nawawi di Kota Mojokerto yang dijadikan sebagai penanda untuk mengenang jasa perjuangan Kiai Nawawi. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)
PENANDA: Ruas Jalan KH Nawawi di Kota Mojokerto yang dijadikan sebagai penanda untuk mengenang jasa perjuangan Kiai Nawawi. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)
PERSEMAYAMAN: TMP Gajah Mada yang sempat ditawarkan untuk menjadi tempat persemayaman jenazah Kiai Nawawi. Namun, tokoh Laskar Hizbullah Mojokerto ini berwasiat untuk dimakamkan di pemakaman umum sebagai warga biasa.

Dari Jagalan, Kota Mojokerto, para pejuang melewati rute di Desa Lengkong, Kabupaten Mojokerto hingga Desa Tarik, Sidoarjo. Dengan pengawalan dari Kompi Sabililllah, perjalanan berlanjut ke arah Prambon yang menjadi barak pejuang.

Kiai Nawawi memilih jalan pintas dengan mengikuti jalan pinggir kanal untuk mempercepat ke Sukodono. Yuhan menyebutkan, di lokasi tujuan itu merupakan pos pertahanan pejuang. ”Di sana (Sukodono, Red) juga sudah ada pasukan Hizbullah Mojokerto yang ditugaskan mempertahankan pos pertahanan,” imbuh dia.

Namun, sebelum tiba, rombongan Kiai Nawawi mendapat sambutan letupan senapan. Tembakan itu berasal dari serangan serdadu Nederlandsch-Indische Civiele Administratie (NICA).

Dengan jumlah dan persenjataan yang tak berimbang, beber Yuhan, pasukan pejuang terdesak dan akhirnya mulai mundur. Namun, Kiai Nawawi yang juga ikut maju di garis pertempuran meminta pasukan untuk terus maju melawan musuh. ”Kiai Nawawi pantang menyerah dan tetap bertekad untuk tidak mundur,” paparnya.

Photo
Photo
PERSEMAYAMAN: TMP Gajah Mada yang sempat ditawarkan untuk menjadi tempat persemayaman jenazah Kiai Nawawi. Namun, tokoh Laskar Hizbullah Mojokerto ini berwasiat untuk dimakamkan di pemakaman umum sebagai warga biasa.

Kiai Nawawi mampu lolos dari hujan tembakan serdadu NICA. Namun, baku tembak cukup hebat itu akhirnya membuat Kiai Nawawi terpisah dengan para pengawalnya. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan tentara kolonial untuk melakukan penyergapan.

Sehingga, sambung Yuhan, Kiai Nawawi akhirnya harus menghadapi pertarungan jarak dekat dengan satu regu serdadu NICA. Tepat di Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono itu menjadi pertempuran terakhir kiai kharismatik tersebut.
Salah satu pejuang terbaik Mojokerto ini gugur setelah tubuhnya dihunus bayonet tentara Belanda. ”Serangan itu tidak bisa dihindari Kiai Nawawi karena terkepung pasukan NICA,” urai penulis buku Garis Depan Pertempuran, Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.

Semangat pantang mundur itu kemudian mewujudkan keinginan Kiai Nawawi gugur sebagai syuhada di medan perjuangan. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #mojopedia #Kota Mojokerto #mojokerto #onde-onde