Celengan ditemukan tim ekskavasi Situs Klinterejo yang dinaungi Balai Pelestarian Kebudayaan XI Jawa Timur. Panjang sekitar 18 sentimeter dan lebar 12 sentimeter. Celengan tidak ditemukan utuh melainkan dalam bentuk kepingan atau pecahan. Namun masih bisa disusun menurut kesesuaian bentuk.
Secara kasat mata, bentuk celengan itu terbilang berukuran kecil. Bentuknya cukup sederhana dengan moncong mulut, kuping, dan mata yang dibuat sederhana. Berikut pula kaki pendek khas celeng/babi. Bahannya tanah liat, gerabah yang merupakan salah satu ragam terakota khas Trowulan/Majapahit.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), celengan adalah tabung (terbuat dari tanah, plastik, dan sebagainya, biasanya berbentuk binatang, seperti babi, ayam, dan sebagainya) untuk menyimpan uang. Dan juga berarti tabungan; uang simpanan. Menurut Gustami dan Narno (1985) celengan adalah tempat untuk menabung uang logam dari uang logam sen-gobang-endil sampai pada uang timah lima senan ketip uang perak.
Dalam ’’Trowulan Kota Terakota’’ yang ditulis Prima Yustana menyebutkan, bermacam bentuk celengan yang ditemukan di situs Trowulan, di antaranya bentuk babi atau celeng (bahasa Jawa), domba, kura-kura dan gajah. Adapula berbentuk manusia baik figur anak kecil dan mungkin juga orang dewasa dengan variasi tinggi antara 3-30 cm.
Kemudian, badan celengan dihias dengan motif garis-garis yang melingkari badannya dan hiasan ombak diantara garis-garis itu. Lubang untuk memasukkan mata uang terletak di bagian atas pada pusat lingkaran atau di bagian tepi.
Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Tradisi Menabung dalam Masyarakat Majapahit: Telaah Pendahuluan Terhadap Celengan di Trowulan menyebut belum diketahui secara persis berapa banyak jumlah celengan yang dibuat. Hanya saja, celengan yang paling banyak ditemukan adalah celengan babi. Penampakannya sering ditandai dengan badan atau perut yang besar melebihi proprorsi dengan ukuran kaki.
Sedangkan, sejarawan Denys Lombard mengungkapkan kebiasaan menabung dalam celengan pada masyarakat Jawa ternyata terpengaruh oleh orang Tionghoa. Celeng jelasnya mengacu pada binatang pembawa rezeki dalam mitologi China.
Akan tetapi Supratikno berbeda pendapat dengan Lombard. Baginya celengan-celengan Trowulan terutama menggambarkan guci-guci dan beberapa figur anak kecil, mengingatkan pada dewa Kuwera. Ini sejalan di mana celengan banyak dibuat masa Hindu-Buddha berkembang di Nusantara.
Penelusuran di Wikipedia, Dewa Kuwera adalah pimpinan golongan para raksasa. Ia diberi gelar Bendahara Para Dewa sehingga kerap disebut juga Dewa Kekayaan atau Kemakmuran. Patung Dewa Kurewa yang pernah ditemukan di Jawa Tengah diperkirakan berasal dari abad ke 9 alias zaman Mataram Kuno. Penampakan dewa ini memiliki perut yang membuncit.
Celengan babi yang ditemukan di Situs Klinterejo adalah bukti terakota pada zaman Majapahit. Terakota berbahan tanah liat itu tampak sederhana dengan ukuran 20 centimeter x 10 centimeter. Bentuknya relatif sederhana dengan minim langgam ukiran. Ditemukan dalam bentuk pecahan. Yang mana diketahui, celengan jika telah penuh atau isinya ingin digunakan maka secara teknis akan dipecahkan.
Arkeolog BPK XI Jatim, Vidi Susanto mengatakan, temuan celengan awalnya berada di timur laut dekat sumur bata lengkung sekitar 2012. Kemudian temuan itu diamankan dan dipindahkan di area Situs Klinterejo. Pihaknya menduga temuan tersebut sudah tertransformasi atau dibuang ke dalam sumuran. ’’Fungsinya sebagai celengan. Berdasar temuan terdahulu celengan berkonteks dengan temuan uang,’’ ujarnya.
Lantas, kenapa ditemukan di daerah sumuran? Pihaknya menjelaskan, celengan zaman Majapahit biasanya ditemukan di tempat permukiman. Informasi yang didapatkannya dari juru pelihara situs, temuan celengan kemungkinan sudah tertransformasi. ’’Atau sengaja dibuang ke sumuran,’’ jelas dia. Terkait kapasitas fungsi celengan, pihaknya belum mengetahui secara pasti. Hanya saja, biasanya celengan menjadi tempat penyimpanan barang berharga.
Arkeolog ini menuturkan, konteks temuan lepas berupa celengan itu belum diketahui konteksnya dengan situs. Hanya saja, patut diduga temuan itu menunjukkan area sekitar temuan merupakan tempat permukiman. Sedangkan, dilihat dari lubang pada celengan bisa juga untuk menyimpan barang berharga lainnya. ’’Bisa saja uang emas dan perak. Dulu bentuknya kecil, sehingga bisa masuk dalam lubang. Uang emas atau perak itu ukurannya seperti butiran jagung,’’ beber Vidi.
Terakota celengan yang ditemukan saat ekskavasi Situs Klinterejo itu menjadi bukti kekayaan ragam terakota di Trowulan. Yang mana, Trowulan dianggap sebagai pusat Kerajaan Majapahit masa Hindu-Budda abad ke 13-15. Di situ ditemukan aneka terakota dengan kualitas jenis bahan baku yang beragam. Juga, teknik pembuatannya. Dipercaya, aneka terakota tersebut tidak hanya berasal dari Nusantara melainkan juga mancanegara.
Nurhadi Rangkuti dari Balai Arkeologi Yogyakarta dalam artikelnya Terakota Masa Sejarah di Indonesia Fungsi dan Teknologinya menyebutkan, pada masa sejarah, terakota mengalami perkembangan variasi bentuk dan hiasan, yang mencapai puncaknya pada kreasi terakota Trowulan. Dalam hal ini terjadi perkembangan 40 bentuk dan langgam dari sederhana menjadi raya dan rumit desainnya.
Menurut Sri Soejatmi Satari dalam "Seni Hias, Ragam dan Fungsinya: Pembahasan Singkat tentang Seni Hias dan Hiasan Kuno" dalam Estetika dalam Arkeologi Indonesia, 1987, menyebutkan makin sederhana bentuk ornamennya, makin dalam arti kandungan simboliknya. Pada perkembangan selanjutnya jenis ornamentasi yang sederhana, mengalami perubahan bentuk dan penambahan hingga lebih raya, sehingga makna simboliknya semakin kabur. Ornamentasi itu lebih mengarah kepada pemuasan rasa keindahan semata. Barangkali juga kreasi seni terakota Trowulan menunjukkan munculnya masyarakat kota yang konsumerisme pada masa Majapahit. (fen) Editor : Fendy Hermansyah